TUHAN ATAS HARI SABAT

  •  Gerald Raynhart Stephen
  •  

Renungan Harian GKI Coyudan

Sabtu, 23 Agustus 2025

Bacaan: Lukas 6:1-5


Tuhan atas Hari Sabat


Sebuah statement akan dipandang dari siapa yang menyebutnya. Karena tentu statement yang berotoritas atau terpercaya haruslah berasal dari sumber yang berotoritas dan terpercaya juga. Demikian juga aturan-aturan yang berlaku. Aturan akan dipandang dari siapa yang mengeluarkannya. Jika ada sosok yang lebih berotoritas mengeluarkan sebuah aturan baru, maka aturan-aturan lain akan mengikuti. Hal ini jugalah yang ingin disampaikan oleh Yesus dalam perikop bacaan kita.


Orang Farisi yang begitu terpaku dan sangat taat tanpa toleransi terhadap hukum taurat melihat celah yang terbuka untuk menegor Yesus dan murid-murid-Nya. Karena murid-murid ada dalam pengawasan sang Guru, maka ketika murid-murid Yesus melakukan kesalahan, Yesus pun ditegor oleh orang-orang Farisi. Jelas bahwa menurut hukum taurat, pada hari sabat semua orang harus beristirahat dan tidak boleh berkegiatan. Hal inilah yang dipermasalahkan oleh orang-orang Farisi.


Murid-murid memetik gandum pada hari sabat. Jelas bukan hanya sekadar "iseng" atau sekadar lewat dan memetik gandum, hal ini tentu bertujuan untuk dikumpulkan dan kemudian dimakan. Jadi murid-murid memang membutuhkan biji-biji gandum itu untuk menjadi makanannya. Tidak dijelaskan apakah pada waktu itu murid-murid sedang kelaparan atau tidak, tetapi Yesus meresponi kegelisahan orang Farisi dengan sesuatu yang diluar pemikiran orang-orang Farisi pada waktu itu. Yesus meresponi orang Farisi itu dengan mengingatkan kejadian ketika Daud dan tentaranya kelaparan (1Sam 21:1-6). Hal ini tentu tidak dapat dibantah oleh orang Farisi karena berhubungan dengan bapa leluhur mereka. Orang-orang Farisi juga tidak dapat berkata bahwa itu adalah sebuah pelanggaran sebab hal itu dilakukan oleh Daud sendiri. Makan roti kudus yang dipersiapkan untuk persembahan adalah sebuah pelanggaran, tetapi bagaimana Daud dapat melakukannya?


Inilah kemudian yang Yesus sampaikan kepada orang-orang Farisi pada waktu itu, "Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat." Artinya adalah pertama, Yesus adalah Tuhan yang berotoritas atas hari Sabat, Dia tahu, dan Dia lebih memahami makna dari aturan tersebut. Kedua, Yesus menunjukkan sisi belaskasihan kepada orang-orang yang membutuhkan. Berkali-kali Yesus lebih mementingkan manusia berdosa agar diselamatkan daripada tradisi-tradisi dan aturan hukum taurat. Bukan berarti Yesus suka melanggar, tetapi Yesus menunjukkan bahwa lebih baik bagi seorang mendapatkan keselamatan daripada aturan yang membuat orang susah diselamatkan.


Dengan statement itu pula Yesus menunjukkan bahwa Ia adalah Tuhan yang mengatur segala sesuatu dengan benar. Ia tidak melenyapkan hukum Taurat, dan tidak menyangkali hukum Taurat, melainkan Ia menggenapinya dengan belaskasihan. Demikian yang Ia lakukan di kayu Salib. Kita yang seharusnya dihukum karena ketidakmampuan kita melakukan setiap hukum-hukum-Nya. Tetapi Dia berbelaskasihan dan menggantikan kita, agar kita beroleh hidup kekal bersama dengan Tuhan. Teladanilah Yesus! Jangan menghakimi sesama yang belum mampu melakukan setiap hukum-hukum Tuhan. Tekunlah mengenal Yesus, dan tekunlah memperkenalkan Yesus pada sesama kita. Karena sungguh, Dialah Tuhan yang mengatur segala-Nya.


Pokok Doa:

1. Pergumulan studi dan pekerjaan remaja-pemuda GKI Coyudan

2. Persiapan HUT GKI Coyudan

3. Persiapan bulan misi

4. Pergumulan jemaat yang sakit dan lanjut usia


Gerald Raynhart Stephen

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.