Kehidupan Setelah Kematian

Photo by Pixabay from Pexels

Bacaan: Yohanes 20 : 27–28

Kalau mau dipikir-pikir, memang tidak mudah membayangkan kehidupan
setelah mati. Seperti apa kehidupan di sana? Apa betul langsung ke surga? Surga itu seperti apa ya? Apa betul lantainya dari emas dan gerbangnya bertaburan permata? Di sana apa selalu terang ya? Apa betul di sana nanti kita bernyanyi terus buat Tuhan? Kapan latihannya? Apa tidak habis suara kita? lha saya ga’ bisa nyanyi gimana donk? Disana makan minumnya gimana ya? rumah kita seperti apa ya? Apa nanti ketemu orang-orang kudus, siapa saja ya mereka? Nanti bisa selfie sama Yesus tidak ya? Apa harus antri dulu? Apa nanti betul akan berjumpa dengan malaikat Gabriel di gerbang surga lalu diperiksa nama kita di buku kehidupan dan akan ditentukan masuk surga atau tidak? Seperti apa bukunya? Pakai tinta apa ya nulisnya? Eh iya, nanti kalau ketemu mantan di sana harus bilang apa ya?

Read More »Kehidupan Setelah Kematian

Mengalami Pengampunan, Melihat Wajah Allah

Photo by Emma Bauso from Pexels

Bacaan: Kejadian 33: 1–10

Tidak ada keluarga yang sempurna. Ketidaksempurnaan itu membuat kita menyadari bahwa setiap orang bisa saja berbuat salah. Entah kesalahan yang sederhana maupun juga kesalahan yang fatal. Meski demikian, tiap kesalahan -apapun jenis dan akibatnya- akan selalu mampu diatasi dengan satu kata: pengampunan. Apa arti kata pengampunan itu sendiri? Pengampunan adalah tindakan sadar yang diambil oleh seseorang yang telah disakiti oleh kesalahan orang lain. Dengan kesadaran itu, ia tidak dipaksa oleh siapapun dan oleh keadaan apapun. Pengampunan bukanlah melupakan kesalahan orang lain. Pengampunan adalah kesadaran untuk mengakui bahwa kita pernah terluka namun kita mau memberi kesempatan kepada orang lain untuk berubah menjadi lebih baik. Pengampunan adalah senjata terkuat dalam resep menjaga kelanggengan dan keabadian nilai dari sebuah relasi. Allah juga memberi manusia pengampunan-Nya melalui pengorbanan-Nya di kayu Salib. Itulah sebab mengapa pengampunan adalah daya pulih dan daya ubah yang begitu kuat bagi semua relasi. Baik relasi Allah dengan manusia maupun relasi dengan sesama manusia.

Read More »Mengalami Pengampunan, Melihat Wajah Allah

Keluarga Yang Tetap Mengasihi Tanpa Pilih Kasih

Photo by Victoria Borodinova from Pexels

Seorang teman saya pernah bercerita bahwa salah satu penyebab dirinya sulit untuk mengampuni orang tuanya adalah karena dia sering dibanding-bandingkan dengan saudaranya. Akibatnya, dia merasa dirinya tidak sehebat saudaranya. Cerita tersebut hanyalah secuil dari banyaknya keluhan anak-anak karena merasa porsi kasih yang ditunjukkan oleh orang tua berbeda dari saudara mereka. Padahal firman Tuhan—dengan jelas—menyatakan bahwa setiap orang percaya (termasuk kita) “dituntut” untuk saling mengasihi (tentunya dengan adil), seperti Tuhan yang telah mengasihi kita (Yohanes 13 : 34-35). Di belakang pernyataan tersebut, Tuhan tidak memberikan anak kalimat seperti “kecuali kalau nilai sekolah anakmu buruk” atau “kecuali kalau orang tuamu bercerai.” Tuhan menghendaki kita untuk tetap mengasihi keluarga kita, itu berarti kita harus menundukkan ego kita di bawah salib Kristus.

Read More »Keluarga Yang Tetap Mengasihi Tanpa Pilih Kasih