REJECTION THERAPHY
Renungan Warta
Minggu, 21 Juni 2026
REJECTION THERAPHY
LUKAS 10: 1-12
Banyak dari kita tidak mudah ketika menghadapi penolakan. Ada yang sampai merasa minder, “baperan”, bahkan “mutung”. Di bidang sekuler, penolakan paling banyak dihadapi oleh mereka yang bekerja di bidang sales. Namun karena tuntutan pekerjaan yang memang harus menawarkan barang / jasa kepada calon customer, mau tidak mau mereka harus siap untuk ditolak.
Seorang pengusaha asal Kanada yang bernama Jason Comely mengembangkan sebuah teknik yang disebut Rejection Theraphy atau Terapi Penolakan. Terapi ini untuk membantu orang untuk mengatasi rasa takut ditolak oleh orang lain. Teknik ini menginstruksikan agar orang yang bersangkutan melakukan permintaan yang kemungkinan besar akan ditolak oleh orang lain, sebagai contoh misal pergi ke warung bakso tapi pesan pizza, atau pergi ke toko handphone lalu meminta diskon 90%. Hal ini bertujuan agar orang tersebut semakin terbiasa dan tidak takut ketika menghadapi penolakan.
Dalam bacaan kita di Lukas 10, Tuhan Yesus sedang mengutus murid-murid-Nya untuk memberitakan Kerajaan Allah. Jika kita nalar, memberitakan Kerajaan dan damai dari Allah adalah hal yang baik, mana mungkin hal yang baik seperti ini akan menghadapi penolakan. Akan tetapi, dunia memang jauh berbeda dari yang dibayangkan. Membawa hal yang baik kepada dunia belum tentu mendapat respon yang positif. Tuhan Yesus mengingatkan para murid, jika menghadapi penolakan agar tidak berkecil hati, cukup pergi ke jalan raya di kota itu dan kebaskan debu dari kaki mereka.
Dalam tradisi Yahudi, mengebaskan debu memiliki makna sebagai tanda pemisahan dari sesuatu yang dianggap tidak termasuk dalam Persekutuan dengan umat Allah, namun dalam hal ini Yesus memberikan makna baru yaitu bahwa para murid sudah melaksanakan tugas pewartaan mereka, terkait penolakan berarti tanggung jawab berada pada penduduk kota yang menolak. Para murid tidak diperintahkan untuk memaksa orang menerima Injil, jika orang menolak, mereka bisa melanjutkan misi ke tempat lain tanpa merasa gagal karena penolakan tersebut.
Hal ini senada dengan apa yang ditulis oleh Yehezkiel 33 : 7 – 9 “Mengenai kamu, hai anak manusia, Aku telah menetapkan kamu sebagai penjaga bagi keturunan Israel; maka kamu harus mendengar perkataan dari mulut-Ku dan memperingatkan mereka bagi-Ku. Ketika Aku berkata kepada orang jahat, ‘Hai orang jahat, kamu pasti akan mati,’ dan kamu tidak berbicara untuk memperingatkan dia dari jalannya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi darahnya akan Aku tuntut dari tanganmu. Akan tetapi, jika kamu memperingatkan orang jahat itu untuk berbalik dari jalannya, tetapi dia tidak berbalik dari jalannya, dia akan mati dalam kesalahannya, tetapi kamu telah menyelamatkan hidupmu.”
Ketika perang AS – Iran dimulai beberapa bulan yang lalu, Paus Leo XIV dengan tegas menolak perang. Beliau menegaskan “Perang adalah Kekalahan”, tidak ada pembenaran atas nama Tuhan untuk perang. Namun demikian bagi sebagian orang kalimat-kalimat Paus Leo ini adalah tidak populer. Dia terus menghadapi nyinyiran dari pemerintah AS yang notabene adalah negara asalnya, kendati demikian pesan perdamaian tetap terus dia gaungkan sampai saat ini.
Dalam kehidupan ini kita belajar menjadi saksi Kristus untuk membawa damai-Nya di dunia ini. Kedamaian adalah pesan yang baik yang kita mau bawa kepada dunia, akan tetapi dunia yang jahat ini belum tentu mau menerima berita Injil. Penolakan demi penolakan pasti kita akan alami, tapi firman Tuhan sampaikan agar kita tidak berkecil hati dan berhenti menjadi saksi karena penolakan tersebut, tetapi terus melangkah bersama dengan Tuhan untuk terus mewartakan dan membawa damai-Nya di dalam dunia ini. Amin.
(Bp. Yoseph Erry Pratomo)