TENTANG MENGASIHI
Renungan Warta
18 Mei 2025
Tentang Mengasihi
Masih dalam suasana duka yang sangat dalam. Gereja kita kehilangan sosok yang sangat amat kita kasihi. Dalam ibadah-ibadah penghiburan yang diselenggarakan minggu ini, selalu terlontar betapa Pdt. Anthon Karundeng adalah teladan dalam hidup berkeluarga, bergereja dan bermasyarakat. Bahkan, kesaksian yang sama saya dengar di lingkungan kerja saya (di luar kota Solo) yang juga mengenal beliau dengan baik. Teladan kegigihan dan ketekunan pelayanan Pdt. Anthon Karundeng bukan hanya tentang berapa jemaat yang dilayani selama hidupnya, bentuk pelayanan apa yang dia berikan pada gereja dan masyarakat, berapa jiwa yang dimenangkan bagi Kristus. Lebih dari itu, pelayanan selama hidupnya menunjukkan betapa beliau sangat mengasihi Tuhan lalu kemudian tercermin dalam kasihnya pada keluarga, jemaat, dan masyarakat.
Keteladanan kasih yang ditunjukkan oleh Pdt. Anthon saya saksikan sejak kecil seiring dengan pasang surut dan dinamika yang terjadi di gereja ini. Hal itu juga diceritakan oleh Ibu Maria Sampyuh dalam kesaksiannya mengenang Pdt. Anthon di mimbar hari Rabu. Ada saat-saat yang sangat berat ketika Pdt. Anthon Karundeng harus melayani seorang diri sebagai pendeta jemaat GKI Coyudan, dan saya juga menyaksikannya melalui kacamata anak yang beranjak remaja. Saat ini saya menyadari bahwa hal saling mengasihi justru akan terasah dan teruji pada masa-masa sulit. Pada saat orang-orang disekitar kita menyakiti kita, pada saat dunia terasa sangat kejam dan keruh, pada saat lingkungan membenci kita tanpa mau peduli dan mendengar perspektif kita, dan pada saat keraguan kita jauh melampaui iman yang dengan semu kita banggakan. Pdt. Anthon Karundeng tetap mengasihi gereja ini terlepas dari semua pahit yang dia dapatkan. Pdt. Anthon Karundeng tetap mengasihi Tuhan di tengah semua pahit yang dia rasakan.
Sama seperti yang dipesankan oleh Tuhan Yesus kepada para murid supaya mereka saling mengasihi setelah kepergianNya pada peristiwa salib, setelah perhentian sejenak di masa duka ini, marilah kita lanjutkan usaha untuk saling mengasihi di tengah ketidaksempurnaan gereja ini. Saya yakin dalam gereja ini banyak perbedaan pendapat, banyak perselisihan, banyak akar pahit yang belum terselesaikan, banyak kekecewaan antara satu dengan yang lain, dan hal-hal tidak menyenangkan lainnya. Namun demikian, shalom yang dianugerahkan kepada kita memampukan kita untuk mencoba kembali mengasihi ketika kita gagal. Shalom yang dianugerahkan kepada kita memampukan kita melalui masa duka, dan mengenang Pdt. Anthon Karundeng sebagai anugerah Tuhan yang sangat indah bagi gereja ini, sosok yang meneladankan kasih Kristus dalam suka maupun duka. Sosok yang menginspirasi kita untuk tidak berhenti saling mengasihi.
(Sdri. Tirza Rosallina)