WASPADA KEMUNAFIKAN

  •  Sujud Swastoko
  •  

RENUNGAN HARIAN

GKI COYUDAN SOLO

Sabtu, 20 Juni 2026


Waspadai Kemunafikan

Lukas 12:1-3


”Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tidak ada sesuatu pun yang terselubung yang tidak akan disingkapkan dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.” (ay.1b, 2)


Tuhan Yesus dengan tegas mengatakan agar para murid waspada terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Mengapa perlu waspada terhadap kemunafikan orang Farisi? Karena kemunafikan tersebut bisa berbahaya dalam kehidupan iman.


Tuhan Yesus memperingatkan bahwa kemunafikan orang Farisi bersifat seperti ragi. Ragi kelihatannya sepele, namun dia bisa menyusup dan mengembangkan adonan. Demikian pula kemunafikan, mulai dari hal yang kecil, namun bisa merembes, menyebar, dan akhirnya merusak seluruh aspek kehidupan rohani seseorang.


Dengan demikian, kemunafikan orang Farisi sangat berbahaya bagi para murid. Orang-orang Farisi merupakan orang yang taat beribadah dalam agama Yahudi. Mereka berusaha melakukan hukum Taurat sesuai dengan aturan-aturan yang telah mereka pahami. Namun, kehidupan mereka penuh kemunafikan.


Orang-orang Farisi dalam sikapnya tampil saleh dan taat beribadah, tetapi di dalam hatinya ada motivasi yang salah yang orientasinya hanya pada kepuasan mereka sendiri. Mereka senang saat dilihat sebagai orang saleh dan taat beragama, sehingga mereka haus akan pujian, sehingga hidupnya hanya terlihat luarnya baik, namun sesungguhnya mereka meninggalkan Tuhan.


Oleh karena itulah bagi orang yang percaya kepada Kristus, kemunafikan merupakan tindakan yang harus diwaspadai dan dihindari jauh-jauh.  Seorang Kristen, harus menampilkan hidupnya yang sesuai dengan hatinya. Kalau dia sudah percaya kepada Yesus Kristus, maka hatinya akan dipenuhi dan dipimpin Roh Kudus, sehingga dia akan hidup dalam kekudusan, penuh kasih, dan akan melakukan perbuatan-perbuatan baik untuk kemuliaan Allah, bukan untuk kemuliaan dirinya sendiri.


Tuhan Yesus juga bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang terselubung.” (ay.2) Artinya, Tuhan itu mengetahui isi hati manusia sehingga manusia tidak bisa menyembunyikan diri dari hadapan Allah. Allah tidak bisa ditipu dengan kemunafikan, dan kemunafikan itu pada akhirnya juga akan terbuka, karena tidak ada sesuatu pun yang terselubung.


Dengan demikian, kalau seluruh kehidupan ini tidak ada yang tersembunyi dari Tuhan, maka kita tidak perlu membuat topeng dalam hidup ini. Kita tidak perlu menjadi orang yang munafik, di hadapan orang lain terlihat baik hati tetapi sesungguhnya hatinya jahat. 


Mari kita hidup jujur, terbuka di hadapan Allah, hidup dalam pimpinan Roh Kudus, sehingga kita tidak perlu menyembunyikan diri saat melakukan segala sesuatu. Lakukanlah segalanya dengan ketulusan hati dan semuanya untuk kemuliaan nama Tuhan, bukan untuk mencari pujian bagi diri sendiri. Amin.


Pokok Doa

1. Ibadah Minggu berjalan lancar.

2. Kondisi ekonomi, politik, dan sosial di Tanah Air, agar menjadi lebih baik.


Sujud Swastoko

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.