TEGURAN YANG MENYELAMATKAN
*RENUNGAN HARIAN GKI COYUDAN*
Kamis, 30 Oktober 2025
*“Teguran yang Menyelamatkan”*
Amsal 15:29–33
Pernahkah kamu merasa jengkel saat seseorang menegurmu? Entah orang tua, teman, atau bahkan pemimpin rohani — teguran sering terasa seperti serangan terhadap harga diri. Tapi menariknya, kalau kita lihat ke belakang, sering kali teguran itu justru menyelamatkan kita dari kesalahan yang lebih besar.
Seorang anak muda pernah berkata, “Dulu aku marah waktu ayahku menegur cara pergaulanku. Sekarang aku bersyukur — karena teguran itu membuatku tidak hancur.” Ternyata, teguran adalah tanda kasih, bukan ancaman.
Amsal 15:29–33 menunjukkan bahwa orang benar bukan yang tidak pernah salah, tetapi yang mau diajar. Tuhan jauh dari orang fasik — bukan karena Ia tidak mau mendengar, tapi karena orang fasik menutup hatinya terhadap suara Tuhan.
Sebaliknya, Tuhan mendengar doa orang benar, yang hidupnya terbuka terhadap koreksi.
Ayat 31 menegaskan, “Orang yang mengindahkan didikan menuju jalan kehidupan.” Artinya, mendengarkan teguran adalah jalan menuju hidup. Teguran menuntun kita untuk memperbaiki langkah, bukan mempermalukan kita. Dan puncaknya, ayat 33 berkata: “Kerendahan hati mendahului kehormatan.” Dalam dunia yang gemar membela diri, Tuhan justru memuliakan mereka yang rendah hati — yang bersedia dibentuk, dikoreksi, dan diarahkan.
Hari ini, mari belajar untuk tidak menolak didikan. Mungkin Tuhan sedang menegur kita melalui orang lain, situasi sulit, atau bahkan suara hati yang tidak tenang. Alih-alih tersinggung, cobalah bertanya:
“Tuhan, apa yang ingin Engkau ajarkan lewat ini?”
Kerendahan hati untuk mendengar membawa kita semakin dekat pada hikmat, dan mendekatkan doa kita kepada Tuhan.
*Doa:*
Tuhan, terima kasih karena Engkau masih mau menegur dan mendidikku. Ajarku untuk memiliki hati yang lembut dan telinga yang peka. Saat Engkau menegurku, tolong aku untuk tidak menolak, tapi belajar dan berubah. Biarlah hidupku semakin bijak dan berkenan kepada-Mu. Amin.
_Pdt Daniel KG_