SABAR DAN BERTEKUN 

  •  Daniel Kristanto Gunawan
  •  

 

Yakobus 5:10-11
“Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia,  yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan  Ayub  dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.”

Banyak orang suka terburu-buru. Tidak tahan menunggu. Ketika mengantri, sudah gelisah. Lampu masih merah dan belum hijau, sudah buru-buru membunyikan klakson dan tancap gas. Mendengarkan khotbah lama, juga gelisah.

Ketidaksabaran tampaknya sudah dikompromikan menjadi hal yang umum.
Orang mulai melupakan apa yang mamanya sebuah proses. Masakan itu perlu diproses matang agar nikmat, mobil di lampu merah perlu proses melepas rem, mengubah persneling dan menginjak gas. Orang sulit menjadi sabar dan ingin cepat selesai, sebab menunggu itu sangat menderita.

Hal ini sangat berkebalikan dengan apa yang Tuhan perintahkan kepada kita tentang kesabaran, yang juga adalah bagian dari buah Roh. Firman Tuhan dalam surat Yakobus mengingatkan kita akan kesabaran dalam penderitaan/kesulitan.

Kesabaran sebuah disiplin rohani untuk terus tabah, kuat, dan terus mengerjakan apa yang menjadi bagian kita. 
Seperti para petani yang menanti hasil dari tanahnya, sabar menanti hujan, menanti waktu panen,  sambil terus merawat dan mengolah bibit-bibitnya. Demikian pula kita harus belajar sabar untuk bertahan dalam proses yang Tuhan izinkan terjadi. Bersabar menanti jawaban doa doa kita. Bersabar menemukan kehendak Tuhan dalam setiap pergumulan kita.

Kesabaran menghasilkan sebuah ketabahan. Gambarannya bagai pelari marathon yang tabah menjaga stamina agar tidak mudah lelah dan dapat sampai ke garis akhir. Dalam hal ini kita perlu menjaga hati. Hati yang tidak sabar, akan mudah bersungut-sungut dan menyalahkan.  Menyalahkan Tuhan ataupun menyalahkan sesama kita. Ini dapat merusak relasi kita dengan Tuhan dan sesama. Kesabaran menghasilkan ketekunan dalam proses. Seperti Ayub yang naik turun bergumul dan berproses. kesabaran, ketabahan, dan ketekunannya membuatnya semakin mengenal siapa Tuhan. 

Dalam masa pra paska ini, kita menjalani aksi puasa pantang, ini menjadi masa di mana kita melatih spiritual dalam bersabar dan berkekun. Supaya kelak hal ini menjadi karakter yang menetap dalam hidup beriman kita. 

Doa Pribadi:
“Tuhan tolong agar kami mau belajar tekun dan sabar dalam menjalani proses kehidupan ini. Amin”

Pdt. Daniel K. Gunawan