KUASA DOA DALAM KESEHATIAN

  •  Tirza Rossalina Christanti
  •  

Renungan warta 17 Mei 2026

Kuasa Doa Dalam Kesehatian



Dalam minggu ini lagi-lagi kita menerima berita cukup memilukan dari bangsa ini. Dunia terasa begitu tidak adil untuk orang-orang yang tulus melakukan perbaikan. Dunia juga begitu kejam memperlakukan seorang anak bertalenta. Tidak habis-habisnya kabar getir yang kita baca, kita dengar, dan beri komentar. Mayoritas kita sebagai jemaat yang bergereja di tempat ini mungkin jauh dari sumber-sumber berita tersebut. Namun demikian, kita tidak luput untuk bereaksi. Apakah kemudian menjadi salah ketika kita mengungkapkan empati dan kekecewaan kita terhadap berita-berita tersebut? Tentu saja tidak. Saat ini, alih-alih menutup telinga atau mengalihkan perhatian, kita justru harus menajamkan empati dan simpati. Tanpa empati, kita menjadi apatis. Sikap apatis akan memberi kita “kenyamanan semu” karena kita membentengi diri terhadap situasi yang terjadi di luar kehidupan pribadi kita. Sikap apatis tidak akan membawa permasalahan-permasalahan di luar menjadi lebih baik. Sikap apatis hanya akan membawa kita semakin jauh dari persekutuan hangat dan memudarkan kesehatian.

 

Dalam situasi menyesakkan seperti ini, kita mengingat bahwa sejak kecil kita selalu didorong untuk “sehati dalam doa”. Doa bukan merupakan alat untuk mengubah situasi menjadi baik dalam waktu sekejap. Doa merupakan wujud spiritualitas kita dalam masa-masa sulit. Situasi mungkin tidak dengan sekejap menjadi baik-baik saja. Bahkan bisa saja situasi seperti ini akan terus memburuk dan tidak jelas ujungnya. Namun demikian, doa mengubah sikap kita dan pola pikir kita. Melalui doa, baik secara pribadi maupun secara komunal, kita menajamkan relasi personal dan relasi komunitas kita bersama dengan Tuhan. Dengan demikian, kita menjadi lebih bijaksana dalam menyikapi situasi-situasi menyedihkan seperti ini. Kita akan membicarakan situasi ini dengan narasi yang lebih bijaksana dan pola pikir yang lebih jernih. Selain itu, kita juga akan memiliki ketangguhan pribadi dan ketangguhan komunitas supaya kita bisa saling menguatkan dan memiliki empati tulus dalam situasi-situasi berat saat ini.

 

Terakhir, kesehatian dalam doa bersama dengan saudara seiman akan membuat hari-hari kita menjadi lebih damai sejahtera, karena masing-masing dari kita tahu bahwa kita memiliki teman yang dapat diandalkan. Permasalahan hidup tentu saja datang bukan hanya soal tata kelola negara yang pelik. Saya yakin masing-masing kita memiliki persoalan pribadi yang mungkin jauh lebih realistis untuk kita pikirkan penyelesaiannya. Mari kita berdoa supaya hati nurani kita dijernihkan, pemikiran kita disegarkan, dan iman kita dikuatkan untuk menjalani hari-hari yang penuh tantangan.


(Sdri. Tirza Rosallina)

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.