BUKAN MENGUMPULKAN, TETAPI DIUTUS BERSAKSI

  •  Gerald Raynhart Stephen
  •  

Renungan Harian GKI Coyudan

Kamis, 21 Mei 2026

Bacaan: Kisah Para Rasul 2:1-13


Bukan Mengumpulkan, Tetapi Diutus Bersaksi


Banyak orang yang keliru menilai momen Pentakosta. Dalam tradisi orang Yahudi, pada hari Pentakosta ditandai dengan perayaan persembahan unjukan yang harus dipersembahkan kepada Tuhan (Im. 23:15-21). Itulah ketetapan yang dibuat oleh Tuhan. Tetapi apakah itu masih berlaku sampai hari ini? Apakah momen Pentakosta sebenarnya?


Setelah Yesus naik ke sorga, para murid mengikuti perintah Yesus untuk menantikan hari turunnya Roh Kudus. Pada waktu itu memang sudah mendekati momen "Pentakosta" yang berarti "hari kelima puluh." Pada waktu itu hari persiapan, sehingga banyak orang berbondong-bondong datang ke Yerusalem untuk merayakan hari Pentakosta itu. Tetapi Kisah Para Rasul tidak lagi berfokus akan kegiatan atau acara Pentakosta sebagaimana yang orang Yahudi rayakan, melainkan justru berfokus pada turunnya Roh Kudus yang sesuai dengan janji Yesus Kristus.


Ketika murid-murid berkumpul tiba-tiba ada angin yang bertiup kencang dan tampak lidah-lidah seperti nyala api menghinggapi para murid. Hal itu membuat heboh banyak orang yang sedang berkumpul di Yerusalem, sehingga mereka berkumpul untuk menyaksikan (ay. 6). Orang-orang mulai melupakan alasan mereka datang ke Yerusalem demi menyaksikan hal tersebut. Lidah-lidah api yang adalah penampakan Roh Kudus itu turun dan membuat murid-murid berbahasa asing, yaitu bahasa yang mereka tidak pernah pelajari sebelumnya. Hal ini juga membuat heboh banyak orang Yahudi yang berkumpul di Yerusalem karena mereka berasal dari berbagai bangsa (ay. 5).


Setelah kehebohan itu, orang Yahudi yang berasal dari segala bangsa itu pun heran karena murid-murid dapat berbicara dengan bahasa mereka masing-masing. Tetapi menariknya ada beberapa orang yang menghiraukan dan berkata bahwa mereka hanya mabuk anggur (ay. 13). Orang-orang seperti itulah yang kemudian sampai hari ini justru mengurangi makna dari Pentakosta yang sebenarnya. Mereka beranggapan seolah-olah momen penting dalam kekristenan ini adalah sebuah hal yang tidak masuk akal. Padahal jelas Pentakosta bagi iman Kristen adalah hari turunnya Roh Kudus dan persembahan yang dibawa kepada Tuhan bukan lagi tentang hasil tanah atau hasil panen, melainkan kehidupan untuk bersaksi, itulah mengapa murid-murid dimampukan berbahasa lain.


Maka dari itu, momen Pentakosta atau hari turunnya Roh Kudus mulai hari itu menjadi momen pengutusan. Murid-murid tidak lagi hidup dalam ketakutan, keraguan, tetapi memiliki keberanian untuk menjadi saksi Kristus. Maka dari itu, sekali lagi Pentakosta bukan momen untuk mengumpulkan umat seperti tradisi Yahudi, melainkan momen pengutusan umat Tuhan untuk bersaksi tentang Yesus Kristus yang mati dan bangkit. Inilah yang sekarang harusnya menjadi pemaknaan dalam Pentakosta yang selalu kita rayakan.


Kita dipanggil untuk menjadi saksi Kristus. Bukan hanya diperintahkan saja, tetapi Tuhan dalam pribadi Roh Kudus terus memampukan dan menuntun kita. Biarlah kita terus ingat panggilan kita sebagai saksi Kristus dalam kehidupan ini. Teruslah bergantung pada kekuatan Roh Kudus dalam memberitakan Injil, baik secara verbal langsung, maupun dalam kehidupan sehari-hari kita. Biarlah hidup kita terus memuliakan nama-Nya.


Pokok Doa:

1. Pergumulan studi dan pekerjaan remaja pemuda GKI Coyudan

2. Persiapan kebaktian Peringatan Turunnya Roh Kudus (Pentakosta)

3. Pergumulan jemaat yang sakit dan lanjut usia


Gerald Raynhart Stephen

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.