PENGUTUSAN MURID
Renungan Harian GKI Coyudan
Rabu, 15 Oktober 2025
Bacaan: Matius 10:5-15
Pengutusan Murid
Bagi seorang guru yang sudah bertahun-tahun mengajar, tentu ingin sekali melihat murid-murid yang mereka ajar menjadi orang-orang yang berhasil. Mereka tentu memiliki kerinduan supaya murid-murid yang telah lulus dari bimbingannya mengalami proses demi proses yang menempa hidup murid-muridnya. Sekalipun mungkin perlu bertahun-tahun untuk melihat hasilnya, tetapi itulah penantian yang akan dialami semua guru kepada murid-muridnya. Maka dari itu, disetiap penghujung pertemuan pengajaran, atau disetiap akhir pertemuan, guru-guru yang punya kerinduan itu akan memberikan nasehat-nasehat penting sebelum melepas murid-murid mereka untuk berproses lebih jauh tanpa dampingan mereka. Itu pula yang dilakukan Yesus, ketika Ia mengutus murid-murid. Tetapi yang membedakan adalah bahwa Yesus bukan berfokus pada keberhasilan murid-murid melainkan pemberitaan Injil yang perlu tersampaikan.
Ketika Yesus mengutus murid-murid-Nya, Ia memulai dengan sebuah nasehat yang mungkin akan membuat kita bertanya-tanya. Yesus memerintahkan murid-murid pergi lebih dulu kepada umat Israel dan bukan ke bangsa lain (ay. 5-6). Hal ini bukan menunjukkan bahwa Yesus "pro Israel" dan tidak peduli kepada bangsa lain, melainkan sebuah desakkan karena justru Israel sebagai penggambaran "umat Allah" pada waktu itu sudah tidak lagi sesuai dengan gambar itu. Kehidupan mereka sudah rusak, dan moral mereka pun juga rusak. Hal ini juga ditekankan kembali oleh Yesus diakhir perikop. Yesus berkata bahwa hukuman kota sodom dan gomora akan lebih ringan daripada kota "orang Israel/umat Tuhan," yang tidak percaya dan tidak bertobat (ay. 15). Hal ini juga kemudian dibahas lagi oleh Yesus dalam pasal 11, ketika Yesus mengecam beberapa kota dan mengucapkan hal yang sama mengenai hukuman kota sodom yang lebih ringan (11:24).
Dari penekanan pengutusan Yesus, sekali lagi kita melihat bahwa ini bukan soal keberhasilan murid-murid, melainkan pemberitaan Injil yang harus dinyatakan. Yesus dengan segera berkata "pergi dan beritakan: Kerajaan Allah sudah dekat (ay. 7)." Fokus dari pengutusan adalah apakah Injil itu tersampaikan, bukan hanya membuat orang lain pindah agama atau "kristenisasi." Demikian juga Yesus sampaikan ketika Ia mengecam kota-kota, bahwa "jika sodom mengalami mukjizat-mukjizat/pemberitaan Injil, maka mereka akan selamat (11:23)." Sekali lagi ini tentang pemberitaan Injil yang perlu tersampaikan dengan baik. Juga perlu diresponi dengan sungguh-sungguh.
Nasehat-nasehat lain juga tidak bisa diabaikan, tetapi nasehat itu fokus pada satu tujuan, yaitu Injil yang tersampaikan. Maka dari itu murid-murid tidak boleh membawa emas, atau bekal, mereka hanya perlu fokus memberitakan Injil. Demikian harus diperbuat murid-murid sehingga semakin banyak orang yang percaya kepada Yesus, bukan karena hal lain, melainkan karena pribadi Yesus sendiri. Karena ketika mendengar Injil tetapi kita tidak meresponinya dengan tepat, maka sama halnya dengan "orang Israel" yang tahu tentang Allah, tetapi justru menolak Allah.
Maka dari itu pengutusan misi atau pemberitaan kerajaan sorga, bukan hanya sekadar melihat hasil akhir yaitu pertobatan. Melainkan fokus melihat dan mempertimbangkan dengan hikmat Tuhan "sudahkah Injil itu tersampaikan dengan baik?" Karena akan sia-sia orang menjadi Kristen kalau hanya ikut-ikutan atau bahkan termakan iming-iming lainnya. Seorang Kristen yang benar haruslah sungguh-sungguh memahami Injil dan meresponi Injil dengan benar. Demikian juga hidup kita bukan mengejar pertobatan orang lain, atau kita berlomba-lomba menjadikan orang lain Kristen dengan menghalalkan segala cara. Tetapi bagaimana caranya agar Injil itu tersampaikan dengan baik dan benar, dan membuat orang lain percaya kepada Yesus karena pribadi-Nya. Kiranya Tuhan menolong dan menguatkan kita senantiasa.
Pokok Doa:
1. Pergumulan studi dan pekerjaan remaja-pemuda GKI Coyudan
2. Rangkaian bulan keluarga
3. Pergumulan jemaat yang sakit dan lanjut usia
Gerald Raynhart Stephen