MERAWAT KEKUDUSAN
Renungan warta 18 Januari 2026
Merawat Kekudusan
1 Korintus 1:1-9
Sering kali kita menilai diri di hadapan Tuhan berdasarkan keberhasilan atau kegagalan hari ini. Namun Paulus, ketika menulis kepada jemaat Korintus dengan kondisi jemaat yang sarat konflik dan ketidaksempurnaan ini justru membuka suratnya dengan ucapan syukur dan peneguhan identitas: mereka dipanggil oleh Allah dan dikuduskan dalam Kristus Yesus.
Kekudusan bukanlah sesuatu yang kita ciptakan sendiri, melainkan anugerah Allah yang diterima ketika dipanggil di dalam Kristus Yesus. Paulus mengingatkan jemaat Korintus bahwa mereka telah dikuduskan bahkan ketika hidup mereka masih dipenuhi kelemahan dan pergumulan.
Namun, anugerah kekudusan ini bukan untuk diabaikan. Kekudusan perlu dirawat dalam kehidupan sehari-hari: melalui sikap hati yang terus dibentuk, pilihan hidup yang bertanggung jawab, dan kesediaan untuk hidup setia di hadapan Tuhan dan sesama. Merawat kekudusan berarti menjaga relasi dengan Allah agar tetap hidup, peka terhadap suara-Nya, dan terbuka untuk diteguhkan oleh Roh Kudus.
Paulus menegaskan bahwa Allah sendiri yang meneguhkan umat-Nya sampai kepada kesudahannya. Artinya, ketika kita merawat kekudusan dengan setia, kita tidak berjalan sendirian. Kesetiaan Allah menjadi dasar pengharapan, bahkan saat kita jatuh dan bangkit kembali.
Di tengah kesibukan, tekanan, dan tuntutan hidup, merawat kekudusan menjadi panggilan yang nyata: hidup dengan integritas, kasih, dan pengharapan, sambil terus bersandar pada kasih karunia Tuhan yang setia.
Marilah kita berdoa: “Tuhan, terima kasih karena Engkau memanggil dan memelihara hidup kami di tengah segala ketidaksempurnaan kami. Kami bersyukur bahwa masa depan kami tidak bergantung pada kekuatan kami, melainkan pada kesetiaan-Mu. Tolonglah kami untuk hidup setia dan senantiasa bersyukur di dalam kasih karunia-Mu setiap hari. Amin.”
(Ibu Askaria Tiaristhy Rantung, S.Si., M.B.A)