MENGHADAPI HIDUP BERSAMA ALLAH YANG HIDUP

  •  Bobby Widya Ardianto
  •  

Renungan Warta, 9 November 2025


MENGHADAPI HIDUP BERSAMA ALLAH YANG HIDUP


MAZMUR 17: 8


“Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu”

Kita semua sepakat bahwa menjalani hidup bukanlah perkara mudah. Kita berpeluh dan bekerja dengan keras supaya kita siap menghadapi hari ini dan esok. Ada tetes air mata yang keluar dari mata atas masalah pahit yang harus kita telan. Kita pernah hampir menyerah karena badai yang semakin mengamuk. Kita pernah marah dan tak terima atas kenyataan yang jauh dari harapan. Segudang cerita mungkin tak akan cukup memuat kisah kehidupan orang-orang percaya saat menapaki langkah kehidupan.

Di dalam Mazmur 17, Daud berteriak kepada Tuhan. Teriakannya sampai meminta dengan sangat melalui kata-kata “dengarkanlah, perhatikanlah, berilah” (ayat 1). Daud tahu betul akan perlindungan dan topangan tangan Tuhan. Dalam ayat 8 ia menuliskan, “Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu”. Kita adalah seperti biji mata-Nya, sesuatu yang sangat berharga dan dilindungi. Naungan sayap Allah adalah simbol bahwa hidup kita dilingkupi oleh-Nya.

Tuhan yang menolong Daud adalah Tuhan yang sama dan akan menolong, melindungi, dan menopang kita. Selama kita menjalani hidup benar sesuai firman-Nya, kita akan berani menjalani hidup bersama dengan Allah yang hidup dan terus memohon keadilan-Nya. Perlindungan Tuhan tidak dapat disamakan dengan menjauhnya masalah dari hidup kita. Kita tetap akan menghadapi realita, dukacita, ketidakadilan dalam hidup ini karena kita masih ada di dalam dunia. Namun, perlindungan Tuhan lah yang membuat kita senantiasa kuat menjalani hidup. Ia yang akan menopang kita dengan sayap-Nya, berjalan bersama kita melewati lembah kekelaman.

Sesaat lagi kita akan memasuki masa adven, masa penantian. Marilah kita menjalani hidup ini dengan terus berjuang melakukan apa yang benar menurut firman-Nya. Pergumulan dan goncangan hidup akan kita hadapi setiap hari. Badai bisa datang kapan saja tanpa kita duga. Disinilah kita diajak untuk terus mengingat bahwa kita tak sendiri. Kita sedang berjalan bersama dengan Allah yang hidup. Imanuel bukanlah sekedar kata. Allah Sang Imanuel ada, dahulu, kini, dan nanti. 


(Pnt. Bobby Widya Ardianto)

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.