MENGENDALIKAN PERKATAAN
RENUNGAN GKI COYUDAN
KAMIS 7 AGUSTUS 2025
MENGENDALIKAN PERKATAAN
Amsal 10:19 (BIMK) Makin banyak bicara, makin banyak kemungkinan berdosa; orang yang dapat mengendalikan lidahnya adalah bijaksana.
Di jaman sosial media yang maju seperti sekarang, rasanya perkataan dan suara begitu bising ditelinga. Di kolom-kolom komentar, orang-orang menjadi berhak untuk mengatakan segala hal tanpa dipikirkan. Mengenal atau tidak yang dikomentari pada postingan di sosial media, bukanlah halangan. Asal bicara, asal menilai dan asal berasumsi. Inilah salah satu dampak negatif dari penggunaan sosial media yang tidak digunakan secara kritis dan bijaksana. Tak heran jika hanya karena sebuah perkataan di sosial media, maka banyak yang berakhir sebagai kasus hukum. Entah itu termasuk dalam kasus ujaran kebencian, penyebaran berita bohong bahkan sampai pada pencemaran nama baik. Hal inilah yang sejak dulu, dalam Alkitab sudah dituliskan tentang betapa pentingnya menjaga perkataan. Ketika manusia tak dapat mengendalikan lidahnya dan sulit untuk berhenti bicara, maka ia sedang menggali lubang kesalahannya sendiri. Amsal sudah mengingatkan kepada kita bahwa orang yang terlalu banyak bicara akan mudah jatuh dalam dosa. Mengapa? Karena tak ada pengendalian diri dan kerendahan hati. Kedua hal ini, sangat berkaitan erat dengan karakter orang yang bijaksana. Orang yang bijaksana akan tahu kapan ia harus bicara dan kapan harus diam. Semua itu bisa ia lakukan karena ia tahu siapa dirinya. Ia adalah manusia berdosa yang harus memiliki kerendahan hati dalam mengawasi dirinya sendiri. Ia adalah manusia yang harus mengendalikan diri karena jika tidak dosanya akan menjadi jerat baginya. Sungguh sebuah petuah yang penuh dengan hikmat Tuhan. Maka, mari kita semakin hari menjaga lisan dan hidup kita. Agar kiranya perkataan yang baik menjadi sebuah pilihan dan gaya hidup kita. Dunia hari ini membutuhkan orang bijaksana yang mampu mengatakan yang baik sesuai tempat dan waktu yang tepat.
Doa pagi:
"Ya Tuhan, kami mohon berjaga-jagalah di depan mulut bibir kami. Agar kami tahu kapan kami harus bicara dan kapan harus menahan diri. Amin"
Pdt Keshia H.S