MENCURI ALLAH
Renungan Harian GKI Coyudan
Jumat, 15 Agustus 2025
Bacaan: 1 Samuel 5:1-12
Mencuri Allah
"Siapa yang sanggup menghadapi TUHAN, Allah yang kudus? Kepada siapa Ia harus pergi meninggalkan kita?” - 1 Samuel 6:2-
Teks hari ini bisa kita kategorikan sebagai dark joke dalam Alkitab. Ceritanya begini: Tabut Tuhan yang dirampas dari orang Israel oleh orang Filistin ternyata malah mendatangkan bencana bagi mereka.
Ketika Tabut itu diletakkan di kuil Dagon, patung Dagon jatuh dengan mukanya ke tanah di hadapan Tabut Tuhan. Keesokan harinya, jatuh lagi—kali ini kepalanya dan tangannya putus. Setelah itu, orang Asdod kena tulah.
Mereka pun memutuskan memindahkan Tabut Allah ke kota Gat—hasilnya sama, Gat juga kena tulah. Lalu dipindahkan lagi ke kota-kota lain—tetap sama. Sampai akhirnya, di pasal 6, Tabut itu dikembalikan ke Israel.
Kalau kita mundur sedikit ke pasal sebelumnya, awalnya Tabut Allah dibawa oleh Israel karena mereka kalah melawan Filistin. Mereka berpikir, “Kalau Tabut Allah dibawa ke pertempuran, kita pasti menang.”
Memang, tentara Filistin awalnya ketakutan. Mereka tahu, ini Allah yang pernah memukul orang Mesir dengan tulah-tulah dahsyat. Tapi ternyata, orang Israel tetap kalah, dan Tabut Allah berhasil dirampas.
Orang Filistin pun berpikir, “Kalau kita punya Tabut Allah, apalagi kalau diletakkan di samping Dagon, dewa kita, pasti hidup kita lebih baik.”
Baik orang Filistin maupun Israel sama-sama menganggap Allah sebagai objek—jimat yang bisa mendatangkan kemenangan.
Tapi ternyata tidak. Bagi Israel, Tabut Allah tidak otomatis membawa kemenangan. Bagi Filistin, Tabut Allah tidak otomatis membawa berkat. Malah membawa malapetaka bagi keduanya.
Jujur saja, ini agak lucu. Orang Filistin mungkin merasa sudah seperti pemenang lotre, merasa dapat hadiah utama, tapi ternyata hadiahnya adalah bom waktu. Bukannya untung, malah buntung.
Kadang kita juga begitu: kirain sudah “aman” karena bawa nama Tuhan, padahal kita nggak pernah benar-benar berjalan bersama Dia. Kita hanya mau Dia ikut di rute yang kita pilih, padahal perjalanan bersama Tuhan itu artinya membiarkan Dia juga menentukan arah.
Memang kalau dibaca, tindakan Allah di sini tampak keras. Tapi di situlah sisi dark joke-nya: teks ini seperti sedang menyindir kita semua yang sering menjadikan Allah sebagai jimat.
Kita mengajak Allah ikut berperang, mengajak-Nya saat mau presentasi proyek, mau ujian sekolah, mau melamar kerja—pokoknya kita berharap Allah “ikut” hanya ketika kita butuh sesuatu.
Dari teks ini kita belajar bahwa Allah bukan jimat. Dia bukan pembawa keberuntungan yang otomatis memberi perlindungan kapan pun kita mau.
Sering kali kita memperlakukan Allah seperti pesuruh: kita yang mengatur, kita yang menentukan apa yang harus Dia lakukan, supaya sesuai keinginan kita. Padahal, Allah itu Allah—berdaulat, bebas berkehendak sesuai rencana-Nya.
Biarkanlah Allah menjadi Allah.
Dan biarkan kita menjadi umat yang siap berjalan bersama dengan Allah dalam situasi apa pun, bukan umat yang memanfaatkan Dia demi agenda kita sendiri.
Doa Pribadi
Tuhan, ajarilah kami untuk berjalan bersama-Mu setiap hari, dalam suka maupun duka, dalam terang maupun gelap. Kami sadar kalau kami seringkali hanya mencari-Mu ketika butuh, tetapi hari ini kami mau berjumpa dengan Engkau di dalam setiap langkah hidup kami. Amin.
Florencia Paramitha H.H.S.