LUBANG TANPA DASAR
RENUNGAN HARIAN GKI COYUDAN
Selasa, 07 Oktober 2025
LUBANG TANPA DASAR
Habakuk 2:5-11
"Karena engkau telah menjarah banyak suku bangsa, maka bangsa-bangsa yang tertinggal akan menjarah engkau.... (ay 8a)"
Kita hidup dalam dunia yang menilai kesuksesan dari seberapa banyak yang kita miliki, bukan seberapa dalam kita bersyukur. Kita terjebak dalam pola pikir “lebih banyak adalah lebih baik,” padahal sering kali “lebih banyak” justru menggerogoti sukacita kita.
Habakuk menulis pada masa ketika Bangsa Babel sedang berada di puncak kejayaannya. Mereka menaklukkan bangsa demi bangsa, menumpuk kekayaan, memperluas wilayah, dan memperkokoh kekuasaan. Namun di mata Tuhan, itu bukanlah kemenangan, melainkan penyakit rohani. Habakuk menyebut akar dari semua itu adalah keserakahan
Habakuk menggambarkan Babel sebagai bangsa yang dikuasai oleh keserakahan, bagaikan seorang pemabuk yang tidak tahu kapan harus berhenti. Dalam bahasa aslinya, frasa “memperluas keinginannya seperti dunia orang mati” menggambarkan sesuatu yang tidak memiliki batas, seperti jurang maut yang tak pernah penuh. Dunia orang mati (Sheol) selalu terbuka untuk menelan lebih banyak, itulah gambaran paling tepat tentang keserakahan.
Ayat 6–8 menegaskan bahwa bangsa yang menumpuk kekayaan dengan cara menindas akan menuai kebinasaan. Dosa keserakahan tidak bisa disembunyikan di balik keberhasilan atau kemakmuran; setiap fondasi yang dibangun di atas ketamakan akan retak dari dalam. Keserakahan bukan hanya soal harta, tetapi juga rasa aman palsu. Babel membangun kota dan benteng tinggi agar tak bisa dijatuhkan, namun, Mereka mengira bisa mengamankan hidup mereka lewat kepemilikan, padahal justru itulah yang menghancurkan mereka.
Habakuk mengingatkan kita bahwa ketamakan selalu menipu, terlihat menjanjikan kepuasan, tapi membawa kehancuran.
Suatu hari ada seorang petani tua memiliki ladang kecil dan hasil panen yang pas-pasan. Suatu hari tetangganya berkata, “Kalau kau punya lahan dua kali lipat, kau pasti hidup lebih nyaman.” Petani itu tersenyum dan menjawab, “Aku sudah nyaman, karena Tuhan selalu memberi sesuai kebutuhanku, bukan keinginanku.”
Tetangganya lalu terus membeli tanah, bekerja tanpa henti, dan akhirnya jatuh sakit karena stres. Sementara petani itu tidur dengan damai setiap malam. Keserakahan membuat kita tak pernah berhenti berlari, sedangkan iman mengajarkan kita berhenti untuk bersyukur.
Renungan ini mengajak kita untuk melihat ke dalam hati kita, apakah kita sedang hidup dengan iman atau dengan ambisi tanpa batas? Apakah kita puas dengan penyediaan Tuhan, atau selalu gelisah karena ingin lebih? Entah itu kekuasaan, kehormatan, harta, atau pengakuan.
Ingat, Tuhan memanggil kita untuk hidup di dalam iman. Iman tidak berarti berhenti berusaha, tapi berhenti menjadikan hasil sebagai berhala. Iman mengajarkan kita bekerja keras, tapi juga berani berkata "cukup" karena Tuhan sudah baik. Hanya di dalam Dia, hati yang haus akan merasa cukup, dan hidup yang kosong akan menjadi penuh.
Pokok Doa:
1. Berdoa untuk Digital Ministry GKI Coyudan agar dapat memperlengkapi setiap anggota jemaat dari segi spiritualitas maupun pengajaran
2. Berdoa untuk keadilan dan kepemimpinan di dalam pemerintahan Indonesia
3. Berdoa untuk pergumulan anggota jemaat yang sedang sakit dan mengalami kesulitan
Reggy Leo