KETIKA SANG GEMBALA MENCARI
RENUNGAN HARIAN GKI COYUDAN
Rabu, 25 Februari 2026
Bacaan: Matius 18:12-14
KETIKA SANG GEMBALA MENCARI
Kita semua pasti pernah mengalami momen kehilangan barang yang sangat berharga di rumah, mungkin kunci motor atau surat penting. Meskipun kita tahu rumah kita aman dan barang lainnya lengkap, pikiran kita tidak akan tenang. Kalau perlu, kita akan membongkar seisi rumah hanya untuk mencari satu benda itu. Ketegangan itu baru mencair ketika benda tersebut kembali ke tangan kita. Gambaran inilah yang Yesus pakai dalam Matius 18:12-14: Allah bukanlah pribadi yang pasif, tapi Dia adalah Kasih yang aktif.
Dalam kacamata teologis, perumpamaan ini sebenarnya membongkar kesombongan rohani kita. Seringkali kita berpikir bahwa pertobatan adalah sebuah "prestasi". Namun, perikop ini menegaskan konsep Anugerah yang Mendahului. Artinya, sebelum kita sadar bahwa kita tersesat, Allah sudah lebih dulu bergerak. Namun, di sinilah letak kedalamannya: Allah yang mencari tidak pernah memaksakan kehendak-Nya. Ia mencari sampai menemukan, tetapi domba itu harus "setuju" untuk diangkat. Pertobatan dalam teks ini secara teologis berarti Metanoia, yaitu perubahan radikal dalam cara berpikir. Domba yang sesat seringkali merasa ia sedang menuju rumput yang lebih hijau, padahal ia menuju maut. Jadi, poin pertobatan di sini adalah pengakuan akan keterbatasan. Kita bertobat bukan hanya saat melakukan dosa moral yang besar, tetapi saat kita sadar bahwa "otonomi" atau keinginan kita untuk mengatur hidup sendiri tanpa Tuhan adalah akar dari segala ketersesatan.
Tindakan pencarian yang dilakukan Allah justru menuntut respon yang sangat aktif dari kita, yaitu kerendahan hati untuk berhenti melawan. Tuhan memang aktif mencari, tapi kita juga harus aktif membuka hati untuk ditemukan. Tanpa kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita "tersesat", pencarian Tuhan hanya akan menjadi pengejaran yang tidak ada akhirnya. Kita dipanggil untuk menyadari bahwa berada di pelukan Sang Gembala jauh lebih aman daripada merumput sendirian di pinggir jurang. Oleh karena itu, jangan tunggu sampai kita "bersih" baru kembali kepada Tuhan. Pertobatan bukanlah hasil dari usaha kita menjadi sempurna, melainkan respon kita terhadap kasih Allah yang mencari kita saat kita masih kotor. Berhentilah berlari, akuilah ketersesatan kita, dan biarkan sukacita surga meluap karena kita telah memilih untuk pulang.
Pokok Doa:
1. Pelayanan Gereja di tengah dunia, terkhususnya dalam masa Pra Paska.
2. Relasi seluruh ciptaan (manusia dan alam).
3. Orang yang sakit, lemah, dan tertindas.
Johan Chandradinata