Ketika Kekayaan Kehilangan Arah
RENUNGAN HARIAN GKI COYUDAN
Selasa, 3 Februari 2026
Ketika Kekayaan Kehilangan Arah
Yakobus 5:1-6
Yakobus menyampaikan teguran keras kepada orang-orang kaya. Nada ini terasa tajam, bahkan mengganggu.
Namun yang dikritik Yakobus bukan pada soal memiliki harta, melainkan cara harta itu diperlakukan dan dampaknya bagi sesama
Kekayaan digambarkan sebagai sesuatu yang membusuk, pakaian yang dimakan ngengat, emas dan perak yang berkarat.
Semua ini menegaskan satu hal: harta duniawi tidak kekal. Ketika kekayaan dijadikan pusat rasa aman dan tujuan hidup, ia justru menjadi kutuk bagi pemiliknya.
Di sini, Yakobus menyoroti ketidakadilan yang dilakukan orang-orang kaya: upah buruh yang ditahan, hidup mewah tanpa kepekaan, dan ketidakpedulian terhadap penderitaan orang benar.
Kekayaan yang seharusnya menjadi sarana untuk berbagi dan menegakkan keadilan malah berubah menjadi alat penindasan. Inilah ironi iman: mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi menutup mata terhadap jeritan sesama. Teks ini juga mengingatkan bahwa Tuhan mendengar suara orang yang diperlakukan tidak adil. Allah bukan hanya Allah yang memberkati, tetapi juga Allah yang membela. Karena itu, Yakobus menempatkan persoalan ekonomi bukan sekadar urusan sosial, melainkan persoalan spiritual.
Pesan ini bukan pada orang kaya saja, tapi bagi setiap kita yang dipercaya Tuhan memiliki berkat materi, entah berapapun yang ada, pertanyaannya tetap sama:
Apakah berkat yang ada pada kita mendekatkan kita kepada Tuhan dan sesama, atau justru menjauhkan?
Harta, jabatan, dan kenyamanan hidup adalah titipan. Ketika semua itu dipakai tanpa kasih dan keadilan, kita sedang menyimpan masalah spiritual yang serius.
Mari kita refleksikan bersama,
bagaimana sikap kita terhadap berkat yang Tuhan percayakan kepada kita? Apakah kita menggunakannya untuk memuliakan Tuhan dan menguatkan sesama, atau hanya untuk diri kita sendiri?
Doa Syafaat
1. Persiapan Masa Raya Paska
2. Stabilitas Ekonomi dan Sosial di Indonesia
Pdt Daniel K. Gunawan