KETEKUNAN BERDOA
Renungan Warta, 19 Oktober 2025
Ketekunan Berdoa
Doa selalu ada dalam setiap agama dan budaya. Dalam berbagai peradaban di dunia, doa menjadi salah satu bagian dari ritual yang paling sakral dan suci. Bahkan, dalam tradisi kepercayaan-kepercayaan yang ada di seluruh penjuru dunia, doa menjadi salah satu ritual utama. Agama Islam dan Yahudi menetapkan ritual doa yang terjadwal. Umat Islam melakukan shalat 5 waktu, umat Yahudi berdoa tiga kali sehari. Praktik-praktik lain dilakukan oleh umat Kristiani di Korea, yang melakukan ritual doa bersama yang diasimilasikan dengan budaya setempat. Lain cerita dengan suku-suku adat yang sering kali melakukan ritual doa yang dikaitkan dengan kebutuhan-kebutuhan pokok, misalnya mempersembahkan hasil panen maupun hasil ternak, dengan harapan Tuhan akan memberikan kemakmuran.
Dalam sejarah Kristiani ritual doa juga sangat kontekstual. Kita melihat dan merefleksikan bahwa Tuhan tidak pernah memaksakan doa dilakukan dengan cara tertentu. Sebaliknya, Tuhan juga bisa memakai kebudayaan lokal sebagai sarana doa – mungkin itu merupakan cara yang lebih mudah dipahami umat kala itu untuk memahami keberadaan Tuhan di hidup mereka. Apapun sarana nya, doa pada intinya merupakan waktu dan momentum personal kita dengan Tuhan, baik kita sebagai individu maupun kita sebagai keluarga.
Bagaimana kita menggunakan waktu kita untuk berdoa akan berpengaruh dan dipengaruhi (timbal-balik) dengan bagaimana kita memaknai nilai-nilai keutamaan atau prinsip yang kita pegang dalam kehidupan sehari-hari. Apabila kita berfokus pada nilai-nilai kesuksesan, maka momen doa kita juga akan banyak berfokus untuk membicarakan hal kesuksesan dengan Tuhan. Contoh nyata dapat kita lihat dari Mazmur Daud, yang secara garis besar menggambarkan prinsip hidup dan apa yang dijalaninya sehari-hari. Jatuh – bangun dari peperangan dan dinamika hidup Daud tercermin dalam doa-doanya.
Dari contoh-contoh dan “budaya” berdoa yang kita lihat setiap hari, dapat disimpulkan bahwa doa merupakan bagian yang integral dalam hidup kita. Bagaimana kita memaknai Firman Tuhan, bagaimana kita melakukan Firman Tuhan, bagaimana kita memperlakukan sesama, bagaimana kita bersikap di banyak setting kehidupan akan integral dengan doa-doa yang kita panjatkan. Kita merupakan manusia yang sangat terbatas. Dengan demikian kita selalu membutuhkan dan menciptakan konteks ketika berdoa. Maka dari itu, jika saat ini yang hendak kita perbaiki adalah “ketekunan” dalam berdoa, maka aspek-aspek kehidupan lain juga harus kita refleksikan bersama dalam doa-doa kita. Sering kali, doa tidak serta merta tentang apa yang kita minta dan apa yang terkabul, tetapi doa justru mengubah kita bersama dengan keluarga kita menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan demikian, kita menjadi bijaksana ketika menerima jawaban dari apa yang kita doakan. (Sdr. Tirza Rossalina)