KEMULIAAN YANG MENEGUHKAN

  •  Teddy Wirawan
  •  

Renungan warta 15 Februari 2026


KEMULIAAN YANG MENEGUHKAN


Keluaran 24: 12-18


Ada momen dalam hidup ketika kita merasa lelah karena kita belum mencapai tujuan. Seperti seorang pendaki yang hampir mencapai puncak gunung, tetapi justru di bagian terakhir jalannya semakin terjal dan tertutup kabut. Ia tahu puncak itu ada, tetapi belum bisa melihatnya dengan jelas. Namun ketika akhirnya ia tiba di atas dan menyaksikan matahari terbit, seluruh rasa lelahnya seperti terbayar lunas. Pemandangan itu bukan hanya indah, tetapi juga memberi kekuatan baru. Kemuliaan yang dilihatnya meneguhkan hatinya.


Dalam Keluaran 24:12–18, Musa dipanggil naik ke gunung oleh Tuhan untuk menerima loh batu yang berisi hukum Allah. Ia harus menunggu enam hari sebelum Tuhan memanggilnya dari tengah-tengah awan. Gunung itu tertutup awan, dan kemuliaan Tuhan tampak seperti api yang menghanguskan di puncaknya. Bagi bangsa Israel yang melihat dari jauh, itu tampak dahsyat dan mungkin menakutkan. Namun bagi Musa, kemuliaan itu adalah perjumpaan. Ia masuk ke tengah awan itu dan tinggal empat puluh hari empat puluh malam bersama Tuhan. Melihat kemuliaan Tuhan bukan sekadar fenomena spektakuler, tetapi pengalaman personal yang membentuk, mempersiapkan, dan meneguhkan seorang pemimpin untuk menjalankan panggilan-Nya.


Sering kali kita ingin menikmati kemuliaan Tuhan namun tanpa proses, ingin pembentukan dari Tuhan namun tanpa masa penantian. Padahal justru dalam awan dan dalam penantian itulah Tuhan sedang membentuk hati kita. Ketika kita berani mengkhususkan diri untuk naik ke dalam hadirat-Nya, kemuliaan Tuhan akan meneguhkan kita. Bukan hanya untuk merasakan hadirat-Nya, tetapi untuk turun kembali dan menjalani panggilan dengan keberanian dan kesetiaan. Kemuliaan yang sejati bukan membuat kita lari dari dunia, melainkan memampukan kita menghadapi dunia dengan hati yang diteguhkan.


(Bp. Teddy Wirawan)

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.