KELUARGA YANG MENJUMPAI ALLAH DI TENGAH PERJALANAN
Renungan Warta, 12 Oktober 2025
KELUARGA YANG MENJUMPAI ALLAH DI TENGAH PERJALANAN
LUKAS 17: 11-19
Perjalanan Yesus menuju Yerusalem bukan sekadar langkah fisik; itu adalah jalan perjumpaan spiritual. Dalam perjalanan itulah, sepuluh orang kusta berdiri dari jauh, berseru memohon belas kasihan. Mereka dijumpai oleh Yesus, dan hidup mereka berubah. Namun, hanya satu yang kembali untuk bersyukur, yaitu seorang Samaria. Ia tidak hanya sembuh secara fisik, tetapi menjadi teladan perjumpaan Allah yang mengubah hidupnya.
Keluarga kita juga sedang berjalan, melewati suka dan duka, harapan dan pergumulan. Dalam perjalanan itu, sering tanpa kita sadari, Allah hadir: dalam tangan yang menolong, dalam anak yang tertawa, dalam kesetiaan pasangan, dalam doa orang tua yang lirih di malam hari. Allah menjumpai kita bukan hanya di gereja, tetapi di dapur, di meja makan, di ruang tamu, di ruang keluarga, di ruang sakit, di setiap percakapan yang penuh kasih.
Perjumpaan sejati dengan Allah bukan sekadar menerima berkat, tetapi mengenal dan merespons kasih-Nya dengan hati yang bersyukur. Keluarga yang bersyukur akan lebih mudah melihat kehadiran Allah di tengah tantangan. Namun, seperti kesepuluh orang kusta itu, kita bisa saja menerima kasih-Nya tanpa kembali kepada-Nya. Keluarga yang menjumpai Allah dalam perjalanan adalah keluarga yang mau berhenti sejenak, mengakui bahwa setiap berkat adalah anugerah, dan menyadari bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk mengucap syukur.
Mari belajar berhenti sejenak dalam perjalanan keluarga kita. Menoleh kepada Allah, bersyukur atas penyertaan-Nya, dan menemukan bahwa sesungguhnya dalam setiap langkah bersama, Allah sedang menjumpai kita.
Maka marilah kita memohon agar Tuhan membuka mata hati kita, supaya dalam perjalanan keluarga, kita selalu menyadari kehadiran Tuhan. Biarlah keluarga kita menjadi keluarga yang tahu akan makna bersyukur dan setia dalam memuliakan-Mu.
(Ibu Askaria Tiaristhy Rantung, S.Si.Teol., M.B.A.)