JANGAN MENGINGAT
RENUNGAN HARIAN GKI COYUDAN
Senin, 19 Januari 2026
JANGAN MENGINGAT
Yesaya 43:18-21 (TB)
"firman-Nya:'Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala!'" (ay.18)"
Trauma adalah respons psikologis dan fisiologis seseorang terhadap pengalaman yang dirasakan sangat mengancam atau menyakitkan. Secara diam-diam trauma mempengaruhi pola hidup, orientasi hidup, dan respon kita dalam sehari-hari. Banyak orang tidak bisa maju dan berkembang oleh karena mereka mengalami trauma akibat kejadian di masa lalu. Di sini lah kita lihat bahwa masa lalu bisa mempengaruhi identitas seseorang yang terlihat dari tindakan dan komitmennya. Hal ini juga terlihat di dalam kehidupan bangsa Israel di masa pembuangan yang menjadi latar belakang dari Yesaya 43.
Melalui Yesaya, Allah melarang umat Israel untuk tidak lagi mengingat apa yang terjadi di masa lalu mereka. Umat Israel berada di dalam pembuangan karena mereka telah melakukan dosa kolektif dan sistemik, mulai dari penyembahan berhala sampai ketidakadilan sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Belum lagi sikap mereka yang bebal menolak firman Tuhan yang disampaikan oleh para nabi Allah. Sampai akhirnya mereka mengalami kekalahan perang yang berakibat pada pembuangan dan mengalami trauma.
Kekerasan yang mereka saksikan dan rasakan pada masa perang mengakibat trauma mendalam, belum lagi banyak dari mereka yang dirantai dan dibawa paksa ke Babel, keluar dari tanah perjanjian yang merupakan tanah yang berharga bagi mereka. Ditambah lagi di hadapan mereka Bait Allah dinajiskan dan dihancurkan oleh bangsa lain. Allah yang berkata bahwa Ia akan diam di tengah umat-Nya malah membiarkan rumah-Nya dihancurkan, bisa jadi ini tanda bahwa Ia sudah tidak lagi mau tinggal di tengah-tengah umat-Nya. Trauma historis yang diturunkan ini tentu saja berdampak terhadap pikiran orang-orang Israel. Seakan-akan tidak ada lagi harapan bagi mereka.
di tengah keputusasaan ini lah, Yesaya tampil dan menyampaikan kepada mereka untuk tidak lagi mengingat-ingat apa yang telah mereka lakukan dan apa yang telah terjadi kepada mereka. Mengingat-ingat masa lalu akan berdampak pada tindakan, orientasi, dan komitmen mereka, itulah yang menjadi penghalang mereka untuk maju dan menyambut hal baru di depan yang telah Allah siapkan bagi mereka (ay.19).Namun, perintah “jangan mengingat-ingat” ini tidak berarti Allah sedang menyuruh umat-Nya melakukan penyangkalan (denial) atau menghapus ingatan secara harfiah. Yang dilarang di sini adalah menjadikan masa lalu sebagai pusat identitas dan penentu masa depan. Masa lalu tidak lagi boleh menjadi lensa utama untuk menafsirkan realitas hari ini.
Hal yang serupa bisa terjadi kepada kita juga. Kegagalan kita, kejatuhan kita, dan perlakukan buruk orang lain kepada kita di masa lalu bisa menimbulkan "trauma". Ketika kita terlalu terikat dengan masa lalu, entah itu secara sadar atau tidak sadar, hal tersebut bisa mempengaruhi kita dalam menghidupi kehidupan hari ini dan masa depan.
Hidup kita hari ini mungkin masih dibayangi oleh kegagalan, luka, atau ketidakadilan yang pernah terjadi. Namun, firman Tuhan mengingatkan bahwa masa lalu bukan takhta, dan trauma bukan tuan. Allah yang sama, yang berbicara kepada Israel di pembuangan, juga berbicara kepada kita hari ini. Ia memanggil kita untuk melepaskan genggaman pada masa lalu, bukan karena masa lalu tidak penting, tetapi karena masa depan bersama-Nya jauh lebih penting.
Sudahkah kita lepas dari kekangan masa lalu? Sudahkah kita berproses untuk pulih darinya?
Kiranya Tuhan menolong kita
Pokok Doa:
1. Berdoa untuk Digital Ministry GKI Coyudan agar dapat memperlengkapi setiap anggota jemaat dari segi spiritualitas maupun pengajaran
2. Berdoa untuk orang Kristen yang dipersekusi di dunia
3. Berdoa untuk masyarakat yang terkena bencana dimanapun mereka berada.
Reggy Leo