IMAN YANG MENGGANGGU ZONA NYAMAN
Renungan Harian GKI Coyudan
Rabu, 8 Juli 2025
Iman yang Mengganggu Zona Nyaman
Kisah Para Rasul 19:28–41
“Seluruh kota menjadi kacau dan mereka ramai-ramai membanjiri gedung kesenuan serta menyeret Gayus dan Aristarkhus, keduanya orang Makedonia dan teman seperjalanan Paulus”
Pernahkah kkita mengalami momen di mana iman kita membuat orang lain tidak nyaman? Misalnya, kita menolak ikut acara kantor yang bernuansa tidak sehat secara rohani, atau kita menegur teman yang hidup tidak sesuai prinsip iman dan malah disalahpahami? Kadang, iman yang sejati bukan membuat dunia tenang, tetapi justru mengusik kenyamanan dunia.
Dalam bagian ini, Rasul Paulus memberitakan Injil di kota Efesus, pusat penyembahan dewi Artemis. Karena banyak orang mulai bertobat dan meninggalkan praktik penyembahan berhala, pengrajin patung merasa terancam secara ekonomi. Salah satunya, Demetrius, membakar amarah massa dengan berkata bahwa Paulus menghina dewi Artemis dan bisa menghancurkan reputasi kota mereka.
Hasilnya? Kerusuhan besar terjadi. Orang-orang berteriak, “Besar Artemis, dewi orang Efesus!”, dan massa memenuhi teater kota dalam kebingungan dan kekacauan. Sebagian bahkan tidak tahu kenapa mereka berkumpul.
Namun di tengah kerusuhan itu, seorang pejabat kota berhasil menenangkan mereka dan memperingatkan agar tidak melakukan tindakan melawan hukum.
Kisah ini menunjukkan bahwa Injil bukan hanya mengubah hati, tapi juga mengganggu sistem dunia yang berdiri di atas keserakahan, penyembahan berhala, dan kebohongan budaya. Bahkan ketika Paulus tidak hadir langsung dalam kerumunan, pengaruh Injil sudah cukup kuat untuk membuat dunia merasa terancam.
Iman yang sejati tidak selalu diterima dengan tenang.Dalam dunia kerja, pendidikan, media, atau pergaulan, nilai-nilai Kristen sering kali bertolak belakang dengan sistem dunia. Ketika kita menolak kompromi integritas, berkata jujur saat yang lain berbohong, atau hidup kudus di tengah gaya hidup bebas akan ada benturan. Tapi benturan itu bukan tanda kegagalan, justru itu tanda bahwa cahaya kita sedang menyala.
Seperti Paulus, kita dipanggil untuk setia memberitakan kebenaran, meski itu mengguncang kenyamanan orang lain. Tuhan tidak memanggil kita untuk hidup nyaman, tapi untuk hidup benar. Kadang benar itu membuat orang lain resah—karena terang memang selalu menyilaukan bagi yang terbiasa hidup dalam gelap.
Kekacauan di Efesus bukan karena Paulus berbuat jahat, tapi karena kebenaran yang ia bawa menantang kebohongan yang mengakar.
Begitu juga dalam hidup kita, jika iman kita tidak pernah menantang apa pun di sekitar kita, mungkin kita belum sungguh bersinar.
Mari berani menjadi terang, meski kadang membuat dunia tidak nyaman. Karena hanya dengan kesetiaan itulah Injil bisa mengubahkan kota, bangsa, dan dunia.
Kiranya Tuhan menolong kita semua
Pokok Doa:
1. Berdoa untuk Digital Ministry GKI Coyudan agar dapat memperlengkapi setiap anggota jemaat dari segi spiritualitas maupun pengajaran
2. Berdoa untuk kestabilan ekonomi dan politik dunia
3. Berdoa untuk pergumulan anggota jemaat yang sedang sakit dan mengalami kesulitan
Reggy Leo