IMAN DAN TUNTUNAN

  •  Gerald Raynhart Stephen
  •  

Renungan Harian GKI Coyudan

Selasa, 12 Agustus 2025

Bacaan: Ibrani 11:17-28


Iman dan Tuntunan


Iman seringkali diumpamakan seperti ketika kita sedang naik pesawat menuju ke suatu tempat. Bagaimana mungkin kita mempercayakan hidup kita kepada seorang pilot yang bahkan tidak kita kenal? Bahkan kita tidak pernah mencari tahu apakah pilot itu benar ada atau pesawat yang kita naiki hanya digerakkan oleh sebuah sistem? Itulah iman, yaitu ketika kita percaya walau tidak melihat.


Namun berbicara soal iman dalam Kristen, ada hal yang lebih penting dari sekadar percaya. Yaitu mengenal Tuhan yang benar. Karena pada dasarnya iman yang benar harus ditujukan kepada Tuhan yang benar. Kalau tidak demikian, semua orang yang tidak percaya kepada Tuhan pun akan mengatakan bahwa mereka memiliki iman. Seperti pendahuluan yang saya sampaikan, bahkan orang non Kristen pun juga percaya kepada seorang pilot yang tidak mereka kenali. Maka dari itu mari kita belajar apa yang disampaikan oleh penulis surat Ibrani tentang iman itu.


Dalam surat Ibrani penulis menjelaskan seperti apakah iman itu. Penulis mengawalinya dengan sebuah definisi yang jelas yaitu: "iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (11:1)." Dalam hal ini jelas bahwa memang betul iman itu adalah suatu harapan dari yang tidak kita lihat. Bagi sebagian orang akan sangat sulit memaknai pengharapan dari sesuatu yang tidak terlihat. Maka dari itu ada istilah "secercah harapan" yang artinya adalah ada sedikit harapan yang terlihat. Maka dari itu, harapan haruslah sesuatu yang terlihat, walaupun sedikit. Namun bagaimana dengan harapan yang tidak terlihat, kabur, dan bahkan gelap sama sekali? Masihkah kita menganggap itu sebagai sebuah pengharapan?


Jika kita melihat dan menyadari kehidupan orang-orang yang beragama, nampaknya semua orang memiliki iman. Berbicara soal harapan yang tidak terlihat, semua agama mengajarkan suatu keyakinan yang tidak terlihat namun mereka meyakininya. Maka dari itu berharap pada sesuatu yang tidak terlihat bukan lagi menjadi perbincangan kita, melainkan kepada siapa harapan itu kita tujukan? Apakah kepada Tuhan yang benar? Atau kepada Tuhan yang salah, atau bahkan pada keyakinan diri kita sendiri?


Dalam teks yang kita baca ditunjukkan bagaimana orang-orang beriman telah melakukan aksi imannya. Mulai dari Abraham sampai kepada Musa, mereka melakukan tindakan iman yang luar biasa. Namun satu hal yang perlu kita fokuskan adalah bagaimana mereka melakukan segala sesuatu tanpa tahu hasil akhirnya? Abraham berserah kepada Allah dan juga Musa menganggap penderitaan dalam Kristus itu lebih berharga (ay. 19, 26). Mereka melakukan tindakan iman mereka yang tertuju pada Tuhan yang benar. Sehingga kita bisa melihat tuntunan Tuhan dalam pemeliharaan bangsa Israel sampai kepada Yesus, dan akhirnya menjadi sebuah jalan keselamatan yang besar bagi kita yang percaya kepada Dia.


Itulah iman yang benar, bukan hanya berharap pada sesuatu yang tidak kita lihat, namun berharap pada Tuhan yang benar. Maka dari itu selain kita perlu punya iman percaya yang kuat, kita juga sangat memerlukan pengenalan yang benar akan Tuhan kita. Ketika kita mengenal pribadinya, maka kita akan lebih tenang untuk menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya, bahkan untuk sesuatu yang tidak kita lihat. Percayakan hidup kita, masa depan kita, anak cucu kita, dan segalanya kepada Dia, yang akan senantiasa memelihara kehidupan kita sampai kekekalan nanti. 


Pokok Doa:

1. Pergumulan studi dan pekerjaan remaja pemuda GKI Coyudan

2. Persiapan HUT RI, HUT GKI, dan HUT GKI Coyudan

3. Pergumulan jemaat yang sakit dan lanjut usia


Gerald Raynhart Stephen

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.