HIKMAT MELAMPAUI KEKUATAN

  •  Reggy Leo
  •  

RENUNGAN HARIAN GKI COYUDAN

Rabu, 11 Februari 2026


Hikmat Melampaui Kekuatan

Orang yang bijak lebih berwibawa dari pada orang kuat, juga orang yang berpengetahuan dari pada orang yang tegap kuat.- Amsal 24:5


Bapak Ibu, ada berita tentang sekelompok pemuda yang tergabung di dalam perguruan beladiri. Sekelompok pemuda ini ketika malam hari berkeliling kota untuk mencari musuh mereka merupakan anggota dari perguruan beladiri yang lain. Ketika mereka menemukan orang yang mereka cari, mereka langsung menghajar orang-orang ini. Tentu saja hal ini mengganggu ketenangan masyarakat karena masyarakat menjadi merasa tidak aman untuk keluar malam-malam di kotanya sendiri. 


Apa yang sebenarnya tujuan dari kelompok pemuda perguruan tinggi ini? Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka punya kekuatan untuk mengalahkan dan menghancurkan musuh-musuh mereka. Mereka ingin agar orang-orang memandang mereka dengan kekaguman oleh karena kekuatan mereka. Tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Alih-alih mendapatkan rasa hormat dari masyarakat, mereka mendapatkan rasa takut dan cemooh dari masyarakat. Di Sosial media perguruan ini dicemooh dan diejek, mereka dianggap sebagai bagian dari Sumber Daya Manusia rendah.


Bapak Ibu, rasa takut dan Wibawa keduanya sebenarnya punya kekuatan untuk mempengaruhi orang. Ketika kita ditakuti, orang-orang mengikuti kita dengan rasa takut tetapi di belakang bisa jadi mereka menjelek-jelekan kita. Tetapi dengan wibawa, orang-orang mendekati kita dengan rasa hormat dan senang karena mereka nyaman dengan keberadaan kita.


Amsal 24:5 mengajarkan bahwa ada sesuatu yang lebih kuat dari sekadar otot atau kekuatan fisik, yaitu hikmat dan pengetahuan. Dalam budaya zaman Salomo, kekuatan militer dan fisik sangat dihargai. Namun, di tengah dunia seperti itu, Salomo menekankan bahwa yang paling menentukan bukanlah kekuatan fisik, tetapi orang yang berhikmat.


Kata "wibawa" dalam ayat ini muncul dari karakter, pertimbangan matang, dan ketenangan seseorang dalam menghadapi persoalan. Orang yang berpengetahuan dapat menghadapi tantangan dengan kepala dingin, tidak mudah diprovokasi, dan mampu memberikan solusi yang membangun. Di sisi lain, orang yang hanya mengandalkan kekuatan, sering kali menyelesaikan masalah dengan emosi dan kekerasan yang justru menimbulkan masalah baru.


Dalam dunia yang menghargai "tampilan luar" seperti suara keras, otot besar, atau dominasi ayat ini menjadi teguran bahwa Tuhan justru memuliakan orang yang bijak dan berpengetahuan, karena merekalah yang menjadi alatNya dalam membawa damai dan kebenaran. 


Bapak Ibu, kita semua mungkin tidak memimpin perusahaan atau pasukan, tapi kita semua memimpin dalam lingkup kita masing-masing,entah di rumah, di kantor, di komunitas. Kalaupun kita tidak memimpin, di dalam kita berinteraksi kita juga pasti memberikan pengaruh ke orang lain.

 Apakah kita membangun pengaruh melalui hikmat dan keteladanan, atau hanya ingin menunjukkan kekuatan dan emosi? Dunia yang kacau seperti sekarang butuh lebih banyak orang yang berhikmat, bukan sekadar orang yang lantang. Butuh mereka yang bisa meneduhkan, bukan memanas-manasi.


Bapak Ibu, jangan kejar rasa hormat dengan cara yang menakutkan. Kejar rasa hormat yang lahir dari hikmat dan kasih. Karena orang yang bijak bukan hanya disegani, tapi juga memberkati. Marilah kita minta kepada Tuhan supaya hidup kita dipenuhi hikmat, karena hikmat dari Tuhan bukan hanya membuat kita berwibawa, tetapi juga menjadi terang bagi orang-orang di sekitar kita.


Kiranya Tuhan Menolong Kita semua.


Pokok Doa:

1. Berdoa untuk Digital Ministry GKI Coyudan agar dapat memperlengkapi setiap anggota jemaat dari segi spiritualitas maupun pengajaran

2. Berdoa untuk saudra-saudara yang masih kesulitan untuk beribadah karena tindakan intoleransi masyarakat

3. Berdoa untuk pergumulan anggota jemaat yang sedang sakit dan mengalami kesulitan


Reggy Leo

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.