GEREJA YANG MEMANUSIAKAN MANUSIA

  •  Maria Sampyuh
  •  

Renungan Warta, 24 Agustus 2025


GEREJA YANG MEMANUSIAKAN MANUSIA


Segala puji, hormat dan syukur layak untuk dipanjatkan kepada Dia, Tuhan Yesus Kristus Sang Kepala Gereja. Pada ulang tahun ke -37 penyatuan GKI, Allah berkenan untuk mengingatkan Misi Allah  bagi manusia yang ada di dunia ini. Misi Allah yang seharusnya dikerjakan oleh Gereja. 


Yesaya 58 berbicara tentang umat Israel yang menjalankan hukum agama yakni berpuasa. Puasa yang dilakukan, salah satunya terkait dengan pertobatan. Namun, seiring dengan berjalannya, praktik berpuasa menjadi kebiasaan atau sekedar menjadi sebuah rutinitas, mereka menjalankan puasa hanya secara ritual saja. Melalui Yesaya, Allah menghendaki ritual yang sejati yakni: "Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar makananmu sendiri dan memenuhi kebutuhan orang yang tertindas" ( Yesaya 58:9b-10a). 


Puasa yang bukan hanya sebagai rutinitas dan hanya secara ritual tanpa disertai dengan perubahan sikap hidup. Berpuasa, namun masih menjadi manusia yang hanya memikirkan diri sendiri dan hanya peduli dengan diri sendiri, masih menindas orang lain, memperlakukan manusia dengan semena-mena. 


Umat Allah selayaknya hadir untuk melepaskan sesama dari belenggu-belenggu kelaliman, memerdekakan sesama yang teraniaya, memberi makan yang lapar, memiliki kepedulian kepada sesama dengan pergumulan-pergumulan papan, sandang. 

Gereja mengemban misi Allah untuk menghadirkan Kerajaan Allah dengan tindakan-tindakan nyata, sebagaimana yang Tuhan Yesus lakukan. 


Ketika Tuhan Yesus mengajar dalam rumah ibadat, ada seorang perempuan yang sudah 18 tahun sakit, punggungnya bungkuk. Tuhan Yesus melihat perempuan itu dan kemudian menyembuhkannya. Tuhan Yesus memerdekakan perempuan itu dari belenggu kesakitan, melepaskan dari kuasa roh jahat yang merasukinya. Namun, apa yang dilakukan Tuhan ini, membuat kepala rumah ibadah marah, karena hari itu adalah hari Sabat. Tuhan menyebutnya orang munafik. Atas tindakan kasih Yesus kepada perempuan itu mereka marah, namun mereka pada hari Sabat melepaskan lembu atau keledainya dari kandang dan membawa ke tempat minum. Mereka bisa berbuat demikian terhadap binatang, tetapi mereka marah dengan perbuatan Tuhan yang memerdekakan manusia. 


Baiklah Gereja secara individual dan komunal, kembali menghayati panggilannya untuk menghadirkan Kerajaan Allah dengan memanusiakan manusia. Menjalankan ritual agama tentu adalah hal yang baik, namun jika semua hanya berhenti pada sebuah ritual yang dilakukan sebagai rutinitas, maka sesungguhnya Gereja perlu untuk mempergumulkan pesan dari Yesaya dan terus meneladani Tuhan Yesus yang memanusiakan manusia. 


Selamat Ulang Tahun ke 37, kiranya GKI senantiasa menghadirkan Kerajaan Allah, dengan hati seperti hati Yesus senantiasa mengerjakan Misi Allah. 


Tuhan Yesus memberkati. 


(Ibu Maria Sampyuh)

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.