GEMBALA YANG BERKORBAN

  •  Gerald Raynhart Stephen
  •  

Renungan Harian GKI Coyudan

Sabtu, 13 September 2025

Bacaan: Yohanes 10:11-18


Gembala yang Berkorban


Berbicara soal korban atau kurban, biasanya yang terpikir adalah hewan atau ternak. Hal itu memang adalah sebuah praktik yang lazim sejak zaman dulu. Di zaman sekarang pun banyak orang-orang peternak, merawat dan membesarkan ternak mereka untuk kemudian dijual atau dikonsumsi. Tetapi lain halnya dengan seorang gembala yang baik. Gembala yang baik ternyata justru lebih rela untuk menjadi kurban dibandingkan harus mengorbankan ternaknya. Gembala yang baik rela terluka dan bahkan mati bagi domba-dombanya.


Yesus memberikan sebuah penjelasan tentang siapa diri-Nya. Ia adalah Anak Allah yang diutus untuk menjadi kurban bagi manusia. Tetapi Dia tidak menyebut diri sebagai domba melainkan sebagai gembala. Karena gembala yang baik justru merelakan nyawanya bagi domba-dombanya (ay. 11).


Selain itu Yesus mengenali setiap umat-Nya sama seperti seorang gembala yang mengenali domba-dombanya. Demikian sebaliknya yaitu bahwa domba-domba itu pasti mengenali suara gembalanya. Maka sudah seharusnya setiap orang percaya juga mengenali suara Tuhan. Lalu bagaimana dengan domba-domba yang belum mengenal suara Sang Gembala yang Agung itu? Yesus juga berkata bahwa diantara domba-domba-Nya ada pula yang belum mengenali suara-Nya. Tetapi Yesus sebagai seorang gembala yang baik akan menuntun domba-domba itu sehingga mereka dapat mengenali suara Sang Gembala.


Menariknya Yesus juga menjelaskan bahwa Yesus berinisiatif untuk memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (ay.18). Hal ini menunjukkan bahwa itu adalah kerelaan yang Yesus lakukan bagi setiap kita yang percaya kepada-Nya. Nyawa-Nya bukan diambil, melainkan Ia memberikan nyawa-Nya. Dan dengan demikian Ia juga berkuasa untuk mengambilnya kembali. Hal ini menjelaskan bahwa Yesus sungguh-sungguh berinisiatif dengan rela menjadi kurban dan berkorban bagi manusia berdosa, sehingga setiap kita beroleh keselamatan.


Gembala yang baik, akan berkorban bagi dombanya. Demikian yang Yesus lakukan; Ia berkorban menggantikan kita untuk menjalani hukuman maut, sehingga kita tidak lagi perlu mengalami dan menghadapi maut itu. Ia berkorban agar kita mendapatkan hidup kekal bersama-Nya. Itu murni adalah inisiatif dan kerelaan-Nya sendiri. Sudahkah kita bersyukur untuk itu?


Tetapi ingatlah, bahwa kasih itu bukan kasih murahan. Kita tidak andil dalam keselamatan yang Tuhan kerjakan. Namun kita perlu sadar mengapa Ia melakukan itu. Karena kita adalah orang berdosa yang membutuhkan keselamatan. Ia tahu kita membutuhkan keselamatan maka dari itu Ia berinisiatif menyelamatkan setiap kita, manusia berdosa. Sadarilah dosa-dosa kita, dan hidupilah anugerah itu! Sadarilah bahwa kita tidak layak dihadapan Tuhan, tetapi mendapatkan anugerah yang besar sehingga Ia harus mengorbankan nyawa-Nya sendiri bagi setiap kita.


Pokok Doa:

1. Pergumulan studi dan pekerjaan remaja pemuda GKI Coyudan

2. Rangkaian kegiatan bulan misi

3. Pergumulan jemaat yang sakit dan lanjut usia


Gerald Raynhart Stephen

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.