DIKENAL MELALUI KASIH
Renungan Harian GKI Coyudan
Sabtu, 31 Januari 2026
Bacaan: Yohanes 13:34-35
“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi. Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, jikalau kamu saling mengasihi.”
Dikenal Melalui Kasih
Dalam kehidupan sehari-hari, kata kasih sering diucapkan, tetapi tidak selalu mudah diwujudkan. Kita bisa dengan mudah mengatakan bahwa kita mengasihi, tetapi dalam praktiknya kita masih gampang tersinggung, memilih-milih orang untuk dikasihi, atau bahkan menjaga jarak dari mereka yang berbeda atau menyulitkan kita.
Dalam Yohanes 13:34-35, Yesus memberikan sebuah perintah yang Ia sebut sebagai perintah baru: agar para murid saling mengasihi, sama seperti Ia telah mengasihi mereka. Perkataan Yesus ini disampaikan pada malam terakhir sebelum penyaliban-Nya. Situasinya penuh ketegangan, dan Yesus tahu penderitaan yang akan Ia alami. Namun yang Ia tekankan justru bukan rasa takut, melainkan kasih.
Dalam teks Yunani Perjanjian Baru, kata kasih yang dipakai di sini adalah agape. Kata ini berbeda dari kasih yang hanya berupa perasaan atau ketertarikan emosional. Agape menunjuk pada kasih yang memilih untuk tetap mengasihi, sekalipun itu tidak mudah dan tidak selalu menyenangkan. Ini adalah kasih yang aktif, rela memberi diri, dan tetap bertahan bahkan ketika tidak dibalas.
Karena itu, perintah ini disebut baru bukan karena sebelumnya tidak ada ajaran tentang kasih, melainkan karena standar kasih yang Yesus berikan berbeda: “sama seperti Aku telah mengasihi kamu.” Kasih Yesus bukan kasih yang pilih-pilih, melainkan kasih yang rela berkorban, mengampuni, dan tetap setia bahkan ketika disakiti dan ditinggalkan.
Ayat 35 menegaskan bahwa kasih antar murid menjadi tanda pengenal mereka. Artinya, dunia mengenal pengikut Kristus bukan pertama-tama dari ibadahnya, pelayanannya, atau pengetahuannya, tetapi dari cara mereka memperlakukan sesama.
Bagi umat saat ini, pesan ini sangat relevan. Gereja sering kali dihadapkan pada perbedaan, bahkan konflik. Namun justru di sanalah panggilan kasih itu diuji. Kasih bukan hanya ditujukan kepada orang yang menyenangkan, tetapi juga kepada mereka yang sulit dipahami, berbeda pandangan, atau pernah menyakiti kita.
Yesus menempatkan kasih sebagai identitas utama pengikut-Nya. Karena itu, pertanyaannya bukan hanya apakah kita sudah mengenal ajaran kasih, tetapi apakah orang lain bisa merasakan kasih itu melalui hidup kita. Setiap hari kita dipanggil untuk menghadirkan kasih Kristus dalam keluarga, gereja, pekerjaan, dan lingkungan sekitar. Melalui sikap yang sabar, kesediaan mengampuni, perhatian kepada yang lemah, dan kerelaan memahami sesama, dunia dapat melihat bahwa kita adalah murid Kristus yang sejati.
Kiranya melalui hidup kita, orang tidak hanya mendengar tentang kasih Kristus, tetapi benar-benar merasakannya. Amin.
Pokok Doa:
1. Pelayanan Gereja di tengah dunia.
2. Relasi seluruh ciptaan (manusia dan alam).
3. Orang yang sakit, lemah, dan tertindas.
Johan Chandradinata