DARI DALAM HATI
Renungan Harian GKI Coyudan
Rabu, 24 September 2025
Bacaan: Lukas 21:1-4
Dari dalam Hati
Memang benar bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menilai hati seseorang, dan juga dirinya sendiri. Hati itu sangat dalam dan cepat berubah; bisa jadi baik, atau bahkan sangat buruk. Lalu bagaimana kita bisa hidup dengan hati yang baik? Siapakah yang bisa menilai hati kita? Apakah Tuhan sungguh-sungguh dapat menilai hati?
Kisah janda yang memberikan persembahan adalah sebuah kisah singkat yang nyata dan bukan perumpamaan. Tetapi ada hal yang menarik sebelum kisah ini dimulai. Pada perikop sebelumnya, di situ Yesus baru saja menyinggung orang-orang Farisi yang selalu ingin tampil baik. Mereka melakukan segala sesuatu yang suci menurut pendangan manusia, padahal keinginan hati mereka adalah menerima hormat (20:46). Selain itu, Yesus juga berkata bahwa orang-orang Farisi ini justru "menelan rumah janda-janda dan mengelabui orang (20:47)." Orang-orang Farisi mengelabui orang lain dengan apa yang terlihat. Bahkan dengan tampil suci mereka juga menelan rumah janda-janda.
Pada waktu itu hidup sebagai seorang janda tidaklah mudah. Mereka tidak mendapat penerimaan dari masyarakat. Status sosial sebagai wanita yang tidak terlalu diperhitungkan, ditambah lagi sebagai seorang janda, membuat mereka semakin terpuruk. Ditambah lagi orang-orang Farisi yang disegani orang banyak justru ikut menindas janda-janda miskin ini. Hal ini menjadi kontras yang nyata antara hidup orang Farisi dan hidup janda-janda.
Bukan sebuah kebetulan, setelah menyinggung orang Farisi, datanglah seorang janda miskin yang memberikan persembahan. Sementara orang-orang kaya memasukkan persembahan dalam jumlah yang besar, sang janda hanya bisa memberikan dua peser (ay. 2). Hal itu mendapatkan pujian dari Yesus, sebab janda itu memberikan dari kekurangan. Bukan menyalahkan orang yang memberi dari kelimpahan, melainkan hati tulus yang dimiliki oleh sang janda itulah yang ingin diungkapkan oleh Yesus di sini. Bahkan dalam Injil Markus diberikan penekanan "seluruh nafkah" yang artinya setelah memberi persembahan sang janda hanya bisa pasrah terhadap hidupnya.
Sekali lagi bukan apa yang dilihat manusia, melainkan hati yang tak terlihat itulah yang penting. Bukan berusaha terlihat baik, melainkan tulus di hadapan Tuhan dan sesama. Itulah yang Yesus kehendaki. Karena semua berasal dari dalam hati; baik itu hal yang baik maupun hal yang buruk. Hanya Tuhan sajalah yang bisa menilai dan juga mengingatkan kita untuk tetap hidup benar di hadapan-Nya. Marilah kita melakukan segala sesuatu dengan hati yang tertuju kepada Tuhan. Supaya apa yang kita kerjakan semua bersumber dari kebenaran Tuhan dan bukan kesenangan pribadi kita masing-masing.
Pokok Doa:
1. Pergumulan studi dan pekerjaan remaja-pemuda GKI Coyudan
2. Persiapan penutupan rangkaian bulan misi
3. Penduduk kota-kota besar yang belum mengenal Tuhan agar dapat mengenal Tuhan
4. Pergumulan jemaat yang sakit dan lanjut usia
Gerald Raynhart Stephen