BERMEGAH DALAM HIKMAT ALLAH

  •  Gerald Raynhart Stephen
  •  

Renungan Harian GKI Coyudan

Senin, 23 Juni 2025

Bacaan: 1Korintus 1:18-31


Bermegah dalam Hikmat Allah


Bermegah atau berbangga diri nampaknya saat ini sudah menjadi hal yang wajar. Semua orang diajarkan untuk mencintai diri sendiri, bangga terhadap pencapaian-pencapaian diri sendiri, dan lain sebagainya. Tetapi apakah hal itu memang seharusnya kita lakukan sebagai bentuk kasih kita kepada diri sendiri? Apakah dengan memegahkan diri kita, atau berbangga terhadap diri kita sendiri menjadi satu hal yang perlu kita lakukan? Bagaimana seharusnya kita bermegah sebagai orang percaya?


Rasul Paulus menjelaskan kepada jemaat di Korintus tentang apa itu bermegah sebagai orang percaya. Sebelumnya Rasul Paulus juga menjelaskan apa yang membuat kita dapat bermegah. Menariknya orang percaya justru tidak bermegah terhadap diri sendiri, melainkan oleh karena hikmat Allah. Dalam hal ini hikmat Allah itu diartikan sebagai tindakan pembenaran dan penebusan yang dilakukan oleh Kristus (ay. 30).


Selain itu juga Rasul Paulus ingin menekankan bahwa pemberitaan Injil Kristus justru berbanding terbalik dengan dunia, bahkan dianggap sebagai batu sandungan dan kebodohan (ay. 22-23). Ini yang kemudian dijadikan sebuah perbandingan oleh Rasul Paulus. Karena apa yang dianggap bodoh bagi dunia justru itulah yang dipakai Allah. Sehingga kita dapat memahami bahwa Allah justru berkenan menyelamatkan orang yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil (ay. 21). 


Satu hal yang perlu kita perhatikan yaitu bahwa kebodohan bagi dunia justru dipakai oleh Allah. Hal ini menunjukkan bahwa sungguh hanya hikmat Allah saja yang menuntun manusia agar dapat percaya kepada-Nya. Hanya Hikmat Allah sajalah yang dapat membuat kita bermegah. Sehingga sebagai orang percaya kita tidak hanya membanggakan diri sendiri, apalagi bermegah terhadap diri kita sendiri. Melainkan hanya karena hikmat Allah saja, kasih karunia Allah saja, dan penebusan Allah saja, yang menolong setiap kita untuk melakukan segala sesuatu dalam dunia ini. Sekalipun sekali lagi itu adalah kebodohan bagi dunia.


Dalam hal ini kita perlu memahami bahwa apa yang dunia ajarkan tidak selalu perlu kita ikuti. Apa yang dianggap baik bagi dunia, belum tentu itu baik bagi Tuhan. Jangan menjadikan diri kita sebagai standar kebenaran seperti apa yang dunia ajarkan tentang "self-love" atau mengasihi diri. Melainkan teruslah sadar bahwa kita hanyalah manusia berdosa yang ditebus dan memperoleh anugerah keselamatan melalui Yesus saja. Dengan demikian kita dapat sungguh-sungguh bermegah dalam Tuhan, dan dalam hikmat Allah.


Pokok Doa:

1. Pergumulan studi dan pekerjaan remaja-pemuda GKI Coyudan

2. Bangsa dan Negara

3. Pergumulan jemaat yang sakit dan lanjut usia


Gerald Raynhart Stephen

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.