BERHENTI MENDUKAKAN HATI TUHAN!
Renungan Harian GKI Coyudan Solo
Senin, 29 Desember 2025
Lukas 19:41-44
Berhenti Mendukakan Hati Tuhan !
Kesedihan yang dialami Tuhan Yesus sesungguhnya bukanlah tentang tembok atau kota Yerusalem itu sendiri. Hal yang menjadi perhatian di sini adalah kehidupan penduduk kota Yerusalem yang tidak mau hidup dalam pertobatan, dan pemerintahan yang tidak mau hidup dalam ketaatan pada kehendak Allah. Tuhan Yesus menyayangkan penduduk kota Yerusalem yang tidak mengerti apa yang perlu untuk damai sejahtera mereka.
Melalui hal ini kita belajar memahami perasaan Allah Bapa yang tampak dalam diri Tuhan Yesus, yaitu bahwa Allah bukan menyayangkan Bait Allah atau kota Yerusalem, tetapi menyayangkan hidup umat di dalam dosa. Allah tidak menyayangkan untuk menghukum umat-Nya dengan keras, bukan karena kehilangan sayang-Nya, tetapi justru karena begitu kasih-Nya kepada umat-Nya. Jadi di satu sisi, Allah berduka karena dosa-dosa umat-Nya, tetapi di sisi lain Allah berduka karena umat tidak mau mendengar dan taat, sehingga Allah harus menegur umat-Nya dengan sangat keras melalui hukuman.
Jadi Allah kita bukanlah Allah yang suka menghukum, tetapi Allah yang menyayangkan tindakan umat-Nya, ibaratnya, ”kenapa harus melalui hukuman berat dulu baru bertobat ?”. Dan hal ini menjadi kecenderungan yang terjadi dalam diri manusia berdosa : ketika tidak ada hukuman, banyak orang tidak sadar akan kesabaran Allah sehingga terus menguji Tuhan dengan perbuatan dosanya berulang-ulang. Pertobatan seringkali menjadi jalan terakhir setelah terjadinya hukuman atau penderitaan.
Berhentilah mendukakan hati Tuhan Yesus dengan perilaku hidup dalam dosa. Jangan terus mencobai kesabaran dan kasih Tuhan dengan hidup yang terus memberontak pada kehendak Allah. Ingatlah selalu untuk mengerjakan pertobatan setiap hari. Karena kita tidak boleh menyia-nyiakan kasih karunia dan kemurahan Allah, tetapi jadikan kesempatan untuk perubahan hidup kita. Amin.
Pokok Doa :
1. Untuk persiapan kebaktian menyambut Tahun Baru.
2. Untuk kondisi kerukunan beragama di Indonesia yang dalam kondisi memprihatinkan.
3. Untuk kepemimpinan negara yang dalam krisis.
Pdt. Lucas Adhitya Aryanto Sudarmadi