BERBALIK ARAH
RENUNGAN HARIAN GKI COYUDAN
Selasa, 16 September 2025
BERBALIK ARAH
Yunus 3:1-10
"Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang menyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa" (ay. 9)
Dulu ketika saya masih mengajar les privat, saya berangkat menggunakan motor ketika untuk pergi ke rumah anak les baru. Pernah dengan percaya diri saya mengikuti Google Maps. Awalnya yakin benar, tetapi semakin lama terasa aneh, jalan makin sepi, semakin jauh dari keramaian. Hingga saya sadar kalau saya salah jalan. Saat itu saya punya dua pilihan, terus maju dengan harapan nanti menemukan jalan keluar sendiri, atau berbalik arah.
Jika saya teruskan, kemungkinan besar saya makin tersesat. Tapi dengan berbalik, saya memang kehilangan waktu, mungkin malu dengan orang-orang yang saya lewati tadi karena salah, tetapi saya kembali ke jalan yang benar dan sampai tujuan. Perjalanan hidup rohani kita pun sering seperti itu, kita salah jalan, tapi tidak mau berbalik.
Bangsa Niniwe terkenal dengan kebrutalan dan kejahatannya. Catatan sejarah Asyur menggambarkan mereka sebagai bangsa yang kejam dalam perang: merobek perut musuh, menyiksa tawanan, bahkan menghina bangsa-bangsa kecil. Tidak heran Allah berfirman kepada Yunus bahwa kejahatan mereka telah sampai ke hadapan-Nya. Allah memberi pesan tegas melalui Yunus, yaitu empat puluh hari lagi Niniwe akan ditunggangbalikkan. Pesan ini sederhana, tidak panjang, tetapi penuh kuasa. Tidak ada janji pengampunan, tidak ada pernyataan kalau bertobat akan selamat, hanya penghakiman. Namun yang mengejutkan, bangsa Niniwe justru percaya kepada Allah. Mereka mengumumkan puasa, dari yang besar sampai yang kecil.
Sang raja sampai turun dari singgasananya, menanggalkan jubah kebesarannya, mengenakan kain kabung, dan duduk di abu sebagai tanda penyesalan. Ia bahkan mengeluarkan dekrit agar semua orang berpuasa, berseru kepada Allah dengan sungguh-sungguh, dan meninggalkan jalan mereka yang jahat.
Hidup kita ibarat sebuah perjalanan. Kadang kita percaya diri bahwa jalan yang kita tempuh adalah benar. Tetapi tanpa sadar kita sudah tersesat, semakin jauh dari tujuan. Banyak orang berpikir solusi dari jalan yang salah adalah mempercepat langkah, bekerja lebih keras, bersenang-senang lebih banyak, mengejar kesuksesan duniawi tanpa arah. Tetapi kebenarannya, jalan yang salah tidak bisa diperbaiki dengan mempercepat langkah, melainkan dengan berbalik arah. Bangsa Niniwe menyadari bahwa terus berjalan dalam kejahatan hanya akan membawa mereka kepada kebinasaan. Mereka memilih berhenti dan berbalik. Keputusan itu membawa mereka kepada pengampunan Allah.
Dalam kehidupan kita, “berbalik” seringkali sulit. Ada rasa malu untuk mengakui salah, ada gengsi untuk mengaku bahwa kita tidak tahu arah, bahkan ada rasa takut kehilangan sesuatu yang kita cintai. Tetapi firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa berbalik kepada Allah selalu lebih baik daripada terus berjalan di jalan yang salah.
Berbalik arah bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kebijaksanaan. Niniwe memilih untuk berbalik, dan Allah menunjukkan belas kasih-Nya.
Hari ini, kalau kita merasa sudah jauh berjalan di jalan yang salah, dalam dosa, kebiasaan buruk, atau bahkan keputusan hidup, ingatlah masih ada kesempatan untuk berbalik. Jangan tunggu semakin jauh tersesat. Allah yang sama yang mengampuni Niniwe, juga siap menyambut kita kembali.
Pokok Doa:
1. Berdoa untuk Digital Ministry GKI Coyudan agar dapat memperlengkapi setiap anggota jemaat dari segi spiritualitas maupun pengajaran
2. Berdoa untuk keadilan dan kepemimpinan di dalam pemerintahan Indonesia
3. Berdoa untuk pergumulan anggota jemaat yang sedang sakit dan mengalami kesulitan
Reggy Leo