ALLAH YANG MENYAHABATI MANUSIA
Renungan warta 11 Januari 2025
ALLAH YANG MENYAHABATI MANUSIA
”Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah turun seperti burung merpati dan hinggap di atas-Nya. Terdengarlah suara dari surga yang mengatakan, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Matius 3:16-17)
Hari ini kita masuk pada Minggu Baptisan Yesus. Muncul pertanyaan, mengapa Yesus harus dibaptis oleh Yohanes pembaptis? Bukankah Yohanes membaptis orang-orang yang bertobat dari dosa-dosanya? Apakah Yesus juga berdosa? Tentu Yesus tidak berdosa karena Ia adalah Allah sendiri yang menjadi manusia. Namun, baptisan itu perlu karena, “Biarlah hal itu terjadi sekarang, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan kehendak Allah.” (ay.15)
Yesus dibaptis karena ketaatan untuk melakukan kehendak Bapa-Nya, yaitu mengggenapi janji Allah dalam menyelamatkan manusia yang berdosa. Kehadiran Allah yang menjadi manusia adalah untuk menunjukkan kasih-Nya, Ia hadir sebagai seorang sahabat yang menolong manusia. Yesus yang dibaptis juga menunjukkan kehadiran Allah sebagai manusia di tengah-tengah manusia untuk hidup sebagai manusia yang benar. Karya Yesus melalui seluruh kehidupan dan pengajaran-Nya menunjukkan, bagaimana Allah menyahabati manusia, ikut merasakan penderitaan manusia, namun juga memberikan kekuatan dan pengharapan bagi manusia.
Seperti kesaksian Rasul Petrus dalam Kisah Para Rasul 10:34-43, Allah tidak membedakan orang. Kehadiran Allah dalam diri Yesus adalah untuk mengasihi semua orang melalui perbuatan baik, menyembuhkan yang sakit, dan melepaskan orang dari kuasa Iblis. “Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.”(ay.35). Sebagai sahabat, Yesus merelakan diri-Nya mati disalibkan, untuk keselamatan para sahabat-Nya. Dan kebangkitan-Nya merupakan kemenangan, sehingga siapa yang percaya kepada-Nya akan memperoleh keselamatan dan hidup yang kekal.
Sebagai orang percaya, kita perlu menyadari bahwa Allah telah hadir sebagai seorang sahabat yang merelakan nyawa-Nya untuk menebus manusia dari dosa. Oleh karena itu mari kita hidup dalam ketaatan dan setia mengamalkan kebenaran firman Tuhan, seperti yang dikehendaki Allah. Allah telah menyahabati kita, maka kita pun juga harus menunjukkan persahabatan itu dengan sesama manusia dan alam di sekitar kita. Tuhan menyertai kita. Amin.
(Pnt. Sujud Swastoko)