ALLAH TRITUNGGAL YANG TERUS BERKARYA
RENUNGAN GKI COYUDAN
MINGGU, 15 JUNI 2025
ALLAH TRITUNGGAL YANG TERUS BERKARYA
Bacaan : Roma 5 : 1 – 5
Dalam dunia pendidikan dan pekerjaan kita sering mendengar tentang IQ (Intelligence Quotient / Kecerdasan Intelektual) dan EQ (Emotional Quotient / Kecerdasan Emosi). Namun, ada satu jenis kecerdasan lain yang mungkin kita jarang mendengarnya. Kecerdasan ini disebut dengan AQ (Adversity Quotient).
Paul G. Stoltz, penulis buku Adversity Quotient mendefinisikan AQ sebagai kecerdasan yang dimiliki seseorang untuk menghadapi kesulitan dan tantangan dalam kehidupan. AQ mengukur kemampuan seseorang untuk mengatasi masalah, bertahan hidup, dan tidak mudah menyerah.
AQ diibaratkan sebagai kemampuan manusia dalam menghadapi tantangan seperti mendaki sebuah gunung. Ada orang dengan tipe “quitters” yang mudah menyerah ketika menghadapi persoalan, ada orang dengan tipe “campers” yang mudah puas dengan kondisinya saat ini dan memilih berhenti agar tidak menghadapi resiko yang lebih besar. Namun ada juga orang dengan tipe “climbers” yang terus setia dalam berjuang mendaki naik untuk mencapai tujuan yang menjadi cita-cita / harapannya.
Hari ini kita merayakan Minggu Trinitas yang mana kita diajak untuk merenungkan Allah yang Esa dalam tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dalam Allah Tritunggal, kita tidak hanya melihat siapa Dia, tetapi juga bagaimana Allah yang telah berkarya dalam penciptaan itu terus bekerja di dalam dan melalui hidup kita.
Rasul Paulus dalam bacaan kita dari surat Roma 5 mengingatkan kita sebagai orang percaya, bahwa kita telah dibenarkan oleh iman. Keselamatan bukanlah karena usaha kita, tetapi karena karya keselamatan melalui inisiatif Allah Bapa yang memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk menjadi kurban keselamatan bagi setiap kita. Karena itu, kita yang percaya dan dibenarkan dapat menerima pendamaian dengan Allah. Kendatipun kita sudah dibenarkan dan diselamatkan bukan berarti karya Allah sudah selesai sampai di situ. Kita yang masih hidup di dalam dunia ini masih harus berjuang dalam ketekunan. Setiap hal yang terjadi di dalam hidup kita yang mungkin kita rasakan sebagai sebuah kesengsaraan adalah sarana bagi Allah Tritunggal untuk berkarya membentuk hidup kita.
Dalam ketekunan, di situlah kita menjadi tahan uji yang berbuah kepada pengharapan. Pengharapan yang dimaksud di sini adalah keyakinan pasti akan janji Allah, dan ini bukan pengharapan yang mengecewakan, karena kasih Allah sudah dicurahkan dalam hati kita melalui Roh Kudus. Harapan orang percaya bukanlah harapan yang mati, tetapi harapan yang hidup karena kita tahu Allah menyertai dan membentuk kita untuk kemuliaan-Nya.
Kembali tentang AQ tadi, bukankah kita ingin menjadi tipe “climbers” yang ingin terus tetap setia berjuang sampai akhir untuk mendapatkan mahkota kemuliaan? Ketekunan bukanlah sekadar bertahan dan berpuas dengan kondisi saat ini, tapi mau terus berjalan maju dengan iman, meski jalan terasa semakin berat, dan di sana kita percaya ada Allah Tritunggal yang selalu berkarya dalam penyertaan dan memberi kekuatan kepada kita. Amin.
(Bp. Yoseph Erry Pratomo)