YESUS ATAU SABAT
Yohanes 5:1-18
Pernahkah kita bertanya mengapa mobil ambulans diperbolehkan menerobos lampu lalu lintas yang sedang merah ketika menjalankan tugasnya? Kita semua pasti sepakat bahwa itu memang sudah seharusnya, karena tugas ambulans itu seharusnya menjadi prioritas bagi semua pengguna jalan. Sekalipun ambulans itu harus "melanggar" aturan yang berlaku, tetapi semua setuju bahwa tugas ambulans tersebut haruslah menjadi prioritas yang berada di atas aturan-aturan yang berlaku. Demikian juga seharusnya kita memandang tindakan-tindakan yang Yesus lakukan di hari sabat.
Dekat kolam Betesda ada seorang yang sakit selama tiga puluh delapan tahun. Tidak ada seorang pun yang peduli kepadanya. Bahkan ketika malaikat turun dan mengguncangkan air pada kolam betesda itu, tidak ada seorang pun yang menolong orang ini untuk turun agar dapat sembuh. Semua orang berlomba-lomba mendapatkan kesembuhan bagi diri sendiri dan tidak lagi peduli kepada yang lain. Di sisi lain ada yang begitu peduli terhadap aturan, tradisi, dan hukum taurat, hingga mengabaikan belaskasihan pula.
Dalam kisah yang kita baca Yesus menyembuhkan orang yang mengalami sakit selama tiga puluh delapan tahun. Dalam konteks bacaan kita, dapat terlihat bahwa orang yang sakit ini berada dekat pada kolam Betesda, yang juga berarti menunjukkan betapa acuhnya orang-orang disekitar sampai-sampai tidak ada yang peduli dan menolong orang tersebut untuk turun ke dalam kolam tersebut. Fakta ini saja sudah dapat membuat kita menggeleng-gelengkan kepala. Mengapa selama tiga puluh tahun tidak ada yang menolongnya?
Tetapi fokus perikop ini bukan hanya pada ketidakpedulian orang-orang yang mencari kesembuhan pada kolam Betesda, melainkan respon orang-orang Farisi yang gusar karena belaskasihan Yesus di hari sabat. Orang-orang Farisi itu menegur orang sakit itu dan berusaha mencari tahu siapa yang membuatnya melakukan hal itu pada hari sabat. Hingga akhirnya mereka tahu bahwa Yesus lah yang melakukan hal itu. Sehingga mereka berencana untuk menganiaya Yesus karena melanggar hukum taurat.
Menariknya respon Yesus di sini memiliki makna yang begitu dalam dan telah diterjemahkan oleh pikiran orang-orang Farisi. Yesus berkata "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga." Hal ini merujuk yang pertama bahwa pekerjaan Bapa adalah belaskasihan kepada orang-orang yang menbutuhkan, dan itu adalah hal yang lebih penting daripada sekadar tradisi hukum taurat. Kedua, yaitu bahwa Yesus mengakui diri-Nya sebagai Allah, karena Ia dan Bapa adalah satu dan melakukan pekerjaan yang sama. Ini lah yang diterjemahkan secara langsung oleh pikiran orang Farisi (ay. 18).
Siapakah yang mengadakan hari Sabat? Siapakah yang paling paham tentang hari Sabat? Siapa yang berhak menentukan prioritas di atas hari Sabat? Bukankah Tuhan sendiri? Klaim Yesus bukan hanya menyatakan bahwa Ia adalah Allah, tetapi juga bahwa Ia juga berhak menentukan prioritas di atas hari Sabat. Justru hal itu menjadi satu teladan yang perlu diikuti sebab Allah yang mengadakan hari Sabat justru memprioritaskan belaskasihan-Nya di atas hari Sabat.
Mari kita tidak sibuk dengan aturan-aturan tradisi. Tidak juga dipenuhi oleh ketakutan-ketakutan pribadi. Di saat kita harus memprioritaskan belaskasihan kepada orang lain, lakukanlah itu. Itulah teladan dari Tuhan kita, Yesus Kristus. Kiranya Tuhan menolong dan menguatkan kita untuk melakukan kehendak-Nya.
Pokok Doa:
1. Pergumulan studi dan pekerjaan remaja-pemuda GKI Coyudan
2. Rangkaian bulan musik dan Budaya di Bulan Juni
3. Pergumulan jemaat yang sakit dan lanjut usia
Gerald Raynhart Stephen