TUNDUK KEPADA ALLAH
Renungan Harian GKI Coyudan Solo
Sabtu, 4 Juli 2026.
Kejadian 22:1-14
Tunduk kepada Allah
Apa yang terlintas dalam pikiran kita ketika mendengar kata "tunduk"? Mungkin kita membayangkan seseorang yang tidak memiliki kebebasan, harus selalu menuruti perintah orang lain, atau bahkan tidak memiliki hak untuk menyampaikan pendapatnya.
Namun, Alkitab memberikan pengertian yang berbeda. Kata Yunani hupotasso menggambarkan ketundukan sebagai pilihan yang dilakukan dengan sadar dan sukarela, bukan karena dipaksa atau ditindas. Ketundukan adalah keputusan untuk mempercayai Allah dan menempatkan diri di bawah kehendak-Nya, karena kita yakin bahwa kehendak-Nya selalu baik.
Ketundukan seperti ini tidak berarti tanpa pergumulan. Tuhan Yesus sendiri mengalaminya. Di taman Getsemani, Yesus bergumul menghadapi salib yang akan ditanggung-Nya. Ia berkata, " Ya Bapa, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu daripada-Ku." Namun akhirnya Ia memilih berkata, "Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi." Di situlah kita melihat bahwa ketaatan sejati tidak menghilangkan pergumulan, tetapi memilih tetap percaya di tengah pergumulan.
Hal yang sama kita temukan dalam kehidupan Abraham. Ketika Allah memerintahkannya mempersembahkan Ishak, tentu hati Abraham hancur. Ishak adalah anak yang telah lama dinantikan, anak perjanjian yang lahir melalui mujizat Allah. Secara manusia, perintah itu terasa tidak masuk akal. Namun Abraham memilih taat, bukan karena ia kehilangan kasih kepada Ishak atau karena ia tunduk secara membabi buta. Ia taat karena mengenal Pribadi Allah yang selama ini selalu setia memelihara dan menepati janji-Nya. Walaupun ia tidak memahami jalan Tuhan, ia tetap mempercayai Tuhan yang memimpin hidupnya.
Sering kali kita juga berada dalam situasi yang membuat kita bertanya, "Mengapa Tuhan mengizinkan hal ini terjadi?" Tidak semua pertanyaan langsung mendapatkan jawaban. Namun firman Tuhan hari ini mengajak kita belajar bahwa ketundukan bukanlah menyerah tanpa berpikir, melainkan mempercayakan hidup kepada Allah yang karakter-Nya tidak pernah berubah. Ketika kita belum memahami rencana-Nya, kita tetap dapat memegang keyakinan bahwa Dia adalah Allah yang baik, setia, dan mengetahui apa yang terbaik bagi anak-anak-Nya.
Kiranya hari ini kita dimampukan untuk berkata seperti Yesus dan meneladani iman Abraham: "Tuhan, mungkin aku belum mengerti jalan-Mu, tetapi aku memilih mempercayai-Mu."
Pokok doa
1. Untuk pertumbuhan iman anggota jemaat GKI Coyudan Solo
2. Untuk perkrmbangan pelayanan pos Kebaktian Baturan Indah, Pos Jemaat Joyotakan dan Pos Jemaat Solo Baru.
Pdt Lucas Adhitya Aryanto S