KASIH DI TENGAH KONFLIK

  •  Reggy Leo
  •  

RENUNGAN HARIAN GKI COYUDAN

Jumat, 03 Juli 2026


KASIH DI TENGAH KONFLIK


Kejadian 14:14 (TB)

"Ketika Abram mendengar, bahwa anak saudaranya tertawan, maka dikerahkannyalah orang-orangnya yang terlatih, yakni mereka yang lahir di rumahnya, tiga ratus delapan belas orang banyaknya, lalu mengejar musuh sampai ke Dan."


Konflik adalah bagian yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan. Konflik bisa terjadi di dalam keluarga, di tempat kerja, di gereja, bahkan dengan orang-orang yang kita kasihi. Persoalannya bukan apakah kita pernah berkonflik, tetapi bagaimana kita merespons konflik tersebut.


Abram juga pernah mengalami konflik dengan keponakannya, Lot. Karena jumlah ternak mereka semakin banyak, para gembala keduanya mulai berselisih memperebutkan padang rumput. Sebagai orang yang lebih tua, Abram sebenarnya memiliki hak untuk memilih wilayah terlebih dahulu. Namun, ia justru mengalah dan memberikan kesempatan kepada Lot untuk memilih. Lot memilih lembah Yordan yang subur, sedangkan Abram menerima daerah yang lebih sulit.


Tidak lama kemudian, Lot tertawan dalam peperangan antara beberapa kerajaan. Namun, begitu mendengar Lot tertawan, Abram segera mengumpulkan 318 orang yang lahir di rumahnya dan mengejar pasukan yang telah memenangkan peperangan. Ini bukan keputusan yang mudah. Abram mempertaruhkan nyawanya, tenaga, dan seluruh sumber daya yang dimilikinya demi menyelamatkan seseorang yang pernah berkonflik dengannya.


Yang menarik, setelah Lot diselamatkan, Abram tidak memperoleh keuntungan apa pun. Ia tidak meminta imbalan, tidak menuntut balas jasa, bahkan tidak memanfaatkan keadaan untuk mendapatkan kembali apa yang pernah dilepaskannya. Abram menolong karena ia mengasihi keluarganya.


Inilah pelajaran yang penting bagi kita. Konflik tidak boleh menghilangkan kasih. Kita mungkin pernah disakiti, dikecewakan, atau diperlakukan tidak adil. Namun sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk tetap memiliki hati yang mengasihi. Perbedaan pendapat tidak harus berubah menjadi kebencian, dan konflik tidak harus melahirkan permusuhan.


Sikap Abram juga mengingatkan kita kepada Kristus. Ketika manusia hidup dalam dosa dan menjadi seteru Allah, Kristus tidak membiarkan kita binasa. Sebaliknya, Ia datang mencari dan menyelamatkan kita. Ia bahkan rela menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib agar hubungan kita dengan Allah dipulihkan. Kristus tidak menghitung untung rugi ketika mengasihi kita.


Karena itu, marilah kita belajar mengasihi seperti Kristus. Jika Tuhan memberi kita kesempatan untuk mengampuni, menolong, atau menjadi berkat bagi seseorang yang pernah berkonflik dengan kita, jangan menolaknya. Jangan bertanya, "Apa untungnya bagiku?" tetapi bertanyalah, "Bagaimana melalui tindakanku orang lain dapat melihat kasih Kristus?"


Kiranya Tuhan menolong kita semua.


Pokok Doa:

Berdoa agar pelayanan Digital dapat memperlengkapi umat dan menjangkau lebih banyak orang.


Reggy Leo

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.