TANAH YANG KUDUS

  •  Reggy Leo
  •  

Renungan Harian GKI Coyudan

Sabtu, 07 Maret 2026 


TANAH YANG KUDUS


Keluaran 3:5

Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus."


Menghormati adalah bagian dari budaya Asia yang sangat ditekankan, hal tersebut nampak dari gestur kita sehari-hari. Gestur kecil seperti menundukan kepala, menundukan badan, dan termasuk melepas alas kaki. Di budaya Asia, melepaskan kasut sebelum masuk rumah adalah hal yang normal dilakukan. Banyak yang mengira hal ini soal kebersihan, tetapi kalau kita melihat akar budayanya, ini tentang rasa hormat kepada rumah atau pemilik rumah itu sendiri. Hal tersebut juga nampak dari apa yang dilakukan Musa ketika ia melihat semak duri yang menyala.


Ketika Musa mendekati semak duri tersebut, Allah berkata kepada Musa untuk melepaskan kasutnya. Hal ini adalah sebuah gestur kesadaran tentang posisi Musa dan siapa yang ia hadapi, yaitu Allah semesta alam. Tanah yang dipijak oleh Musa adalah tanah yang kudus, tetapi frase itu tidak pernah dimaksudkan secara geografis. Gunung Horeb tidak sakral karena batunya berbeda. Tanah itu menjadi kudus karena Allah hadir di sana.


Kesadaran Musa terhadap kekudusan Allah membuat ia takut dan gentar sehingga menutup wajahnya. Ia tahu bahwa kekudusan bukan sekadar atribut moral, melainkan realitas yang begitu suci sehingga dosa tidak dapat bertahan di hadapannya. Dalam Perjanjian Lama, kekudusan berarti jarak. Ada batas dan pagar. Ada sistem imamat sebagai mediator antara Allah dan manusia.


Namun dalam Perjanjian Baru, Imam sejati telah hadir. Di dalam Kristus, akses kepada Allah tidak lagi melalui sistem korban berulang, melainkan melalui karya pendamaian yang sempurna. Kita tidak lagi berdiri jauh sambil gemetar sebagai budak, melainkan datang sebagai anak dengan keberanian. Bukan karena Allah menjadi kurang kudus, tetapi karena jalan telah dibukakan.

Tetapi di sini ada ketegangan yang perlu kita jaga. Keberanian bukan berarti kehilangan hormat. Akses bukan berarti keakraban tanpa kesadaran. Jika Musa melepas kasutnya karena ia sadar sedang berdiri di hadapan Yang Kudus, maka kita pun dipanggil untuk memiliki kesadaran yang sama, bahkan ketika kita menyebut Allah sebagai Bapa.


Tanah menjadi kudus karena Allah hadir. Dan jika Allah berdiam di dalam umat-Nya, maka hidup kita, entah itu ruang kerja kita, rumah kita, pelayanan kita; bisa menjadi “tanah kudus” ketika kita sadar akan kehadiran-Nya.


Pertanyaannya adalah, ketika kita datang kepada Allah hari ini dengan keberanian sebagai anak, apakah hati kita tetap melepas “kasut” sebagai tanda hormat kepada Yang Kudus?


Kiranya Tuhan menolong kita dalam mempersiapkan hati di masa prapaska ini.


Pokok Doa:

Perdamaian di negara-negara Timur Tengah


Reggy Leo

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.