SPIRITUALITAS HIDUP UGAHARI

  •  Lydia Kwa She Ing
  •  

RENUNGAN WARTA, 28 Juli 2024



Lukas 3 : 10-14

         Ugahari memiliki arti sederhana. Kehidupan yang tidak berkekurangan namun juga tidak terlalu berlebihan atau bermewah-mewahan. Gaya Hidup ugahari merupakan hidup dalam kesederhanaan serta rasa cukup. Memenuhi kehidupan sesuai kebutuhan bukan keinginan untuk berfoya-foya agar mendapat pujian. Keugaharian juga merupakan suatu bentuk dari penguasaan diri. Spiritualitas keugaharian adalah berani berkata cukup terhadap godaan materi sebagaimana doa yang Tuhan Yesus ajarkan, ‘berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.’ Cukup itu relatif, cukup bagi seseorang belum tentu cukup bagi orang lain tetapi ketika kita berkata “secukupnya”, Tuhan tahu benar keperluan-keperluan yang sedang kita butuhkan saat ini.

         Beberapa minggu ini media sosial diramaikan dengan berita tentang pernikahan super mewah abad ini yaitu pernikahan anak orang terkaya di Asia. Pernikahan ini menjadi perbincangan hangat karena rangkaian acara yang dimulai dari bulan Maret sampai Juli 2024, diperkirakan menghabiskan biaya sekitar 9,7 trilyun. Dengan kekayaan diperkirakan mencapai 1.986 trilyun, tentu biaya pernikahan sebesar itu tidak ada artinya. Namun beberapa orang berkomentar bahwa pesta yang indah tidak harus menghabiskan dana yang sangat besar. Dibalik itu ada juga berita yang mengatakan bahwa kemewahan pesta pernikahan tersebut ingin menunjukkan kepada dunia tentang kekuatan ekonomi suatu negara. Terlepas dari apapun tujuan dibalik kemewahan yang ditampilkan, rasanya miris ketika melihat kondisi dunia saat ini dimana jumlah penduduk miskin semakin meningkat dari tahun ke tahun. Banyak orang yang untuk makan sehari-hari saja sulit, namun disisi lain orang bisa menyelenggarakan sebuah pesta pernikahan dengan biaya yang sangat fantastis.

         Lukas 3:10-14, menceritakan bagaimana Yohanes mengajarkan kepada orang-orang yang saat itu ingin di baptis, untuk hidup saling berbagi dan hidup berdasarkan apa yang menjadi haknya. Yohanes juga mengingatkan orang banyak untuk mengubah pola hidup mereka menjadi lebih peka kepada orang-orang miskin dan yang berkekurangan.

Di masa sekarang ini banyak orang berlomba-lomba mengejar kekayaan dan kesenangan pribadi demi memiliki gaya hidup mewah untuk dibanggakan diberbagai media sosial. Keugaharian tidak berarti “memiskinkan diri”. Keugaharian adalah sebuah mentalitas dan sikap hidup yang melihat dan menghargai hidup ini sebagai anugerah Allah. Spiritualitas ugahari juga mendorong seseorang untuk peduli terhadap sesamanya agar mereka dapat hidup dalam kecukupan juga.

Karena itu mari kita belajar hidup dalam Spiritualitas Ugahari, belajar mencukupkan diri dan hidup dalam kesederhanaan dan jika Tuhan memberkati kita dengan berlimpah, mari kitapun peduli dengan mereka yang mengalami kesulitan dan penderitaan.

        

Pnt. Lydia Kwa She Ing


Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.