SEBUAH ANUGERAH DARI PANDANGAN
Renungan Harian GKI Coyudan
Jumat, 18 April 2025
Bacaan: Lukas 22:54-62
Sebuah Anugerah dari Pandangan
Memasuki masa kematian Yesus di salib, apakah kita sudah sungguh-sungguh menghayati hal itu dalam hidup kita? Apakah makna salib itu bagi kita? Apakah salib itu benar-benar berdampak? Ataukah hari ini akan terlewat seperti hari-hari biasa? Sadarkah bahwa kita lah yang seharusnya menanggung kematian itu?
Petrus adalah sosok murid yang sangat berapi-api, pemberani dan dekat dengan Yesus. Tetapi pada akhirnya ia harus jatuh ke dalam pencobaan untuk menyangkali bahwa ia mengenal Yesus. Angka tiga mungkin akan menjadi angka yang paling traumatis bagi Petrus. Tiga kali ia menyangkal, sesuai dengan apa yang sudah diungkapkan oleh Yesus (22:34). Sayangnya pada waktu itu ia tidak menghiraukan ucapan Yesus karena semangatnya yang berapi-api untuk berusaha melindungi Yesus dari kematian.
Setelah Yesus ditangkap, ia pun di bawa ke hadapan seorang Imam Besar. Di sana Ia harus menghadapi banyak pertanyaan yang menghakimiNya, yang juga memojokkanNya untuk mengikuti kemauan orang-orang Farisi dan Imam Besar. Tetapi Yesus memilih untuk teguh dan tidak menyangkal sekalipun Ia tahu konsekuensi dari tindakanNya. Yesus tahu bahwa penyangkalanNya akan membatalkan karya keselamatan bagi manusia.
Di sisi lain, seorang murid yang pemberani menunjukkan aksinya dengan mengikuti Sang Guru secara diam-diam. Dia berusaha berlindung dalam kerumunan orang banyak, berharap tidak ada yang mengenalinya. Di saat murid-murid yang lain pergi dan bersembunyi di tempat yang aman, Petrus memilih untuk konsisten terhadap perkataanya untuk tetap mendampingi Sang Guru (22:33). Namun, sayang sekali malam itu ia harus dikecewakan oleh perkataanya sendiri. Dalam hati kecilnya, ia tidak berani menghadapi kematian bersama Yesus, dan akhirnya menyangkali Yesus.
Menarik sekali bahwa Injil Lukas menulis sebuah detail yang tidak di tunjukkan oleh Injil lain, yaitu tentang pandangan Yesus kepada Petrus (ay. 61). Hal ini memberikan dua hal penting; pertama, Yesus membuka mata Petrus untuk menyadari siapa dirinya sebenarnya. Pandangan itu membuat Petrus sadar bahwa ia bukanlah seorang pemberani seperti apa yang ia pikirkan selama ini. Petrus tetap memerlukan kekuatan dari Tuhan agar dapat melakukan segala sesuatu. Selain itu pandangan Yesus membuat Petrus harus mengakui kesalahan dan dosanya di hadapan Yesus.
Kedua, pandangan itu memiliki makna yang lebih dalam, yaitu anugerah. Mengapa anugerah? Yesus tahu bahwa Petrus akan menyangkalNya, tetapi Yesus tetap memilih jalan itu, dan bahkan sebelum terjadi Yesus sudah lebih dulu memperingatkan Petrus untuk kembali dan menguatkan murid-murid yang lain (22:32). Sehingga tatapan mata atau pandangan Yesus kepada Petrus bukanlah sebuah penghakiman atas dosa Petrus, melainkan menyatakan anugerah yang besar bagi Petrus.
Pandangan itu kemudian diresponi oleh Petrus dengan penyesalan dan haru yang begitu dalam akan kasih Yesus kepadanya. Tidak ditulis berapa lama ia menangis dengan sedihnya, tapi kita perlu tahu bahwa itu adalah kondisi dimana Petrus sungguh-sungguh berdukacita akan dirinya di hadapan Tuhan yang beranugerah. Inilah juga yang dimaksud Tuhan Yesus dalam ucapan bahagianya tentang "berbahagia orang yang berdukacita" (Mat 5:4), yaitu ditujukkan kepada orang-orang yang berdukacita atas dosa-dosa mereka dengan menyadari anugerah dari Tuhan.
Maka dari itu di momen Jumat Agung ini marilah kita belajar menyadari dosa-dosa kita. Bukan hanya terharu dan bersedih memandang Yesus yang disalib, melainkan lebih daripada itu, kita perlu berdukacita untuk penyebab penyaliban itu sendiri. Ia sudah mati untuk kita, maka marilah kita juga mematikan dosa dalam kehidupan kita agar kita boleh sungguh-sungguh beroleh hidup bersama dengan Tuhan (Rom 8:13). Teruslah andalkan anugerahNya dan bukan kekuatan kita. Manusia lemah tetapi Tuhanlah yang menguatkan. Kiranya Tuhan menolong kita menghayati Jumat Agung dengan bersandar pada kekuatan Tuhan yang telah beranugerah dalam hidup kita.
Pokok Doa:
1. Pergumulan studi dan pekerjaan remaja-pemuda GKI Coyudan
2. Kebaktian Jumat Agung, Sabtu Sunyi, dan Paskah serta penghayatannya
3. Pergumulan jemaat yang sakit dan lanjut usia
Gerald Raynhart Stephen