KITA SEMUA BERJALAN: BERSAMA SIAPA?
Renungan warta 26 April 2026
Kita Semua Berjalan: Bersama Siapa?
Mazmur 23
Dalam sebuah podcast terkenal di YouTube, seorang host berinisial DC pernah bertanya kepada narasumbernya: “Bisakah kamu katakan sesuatu ke penonton, supaya mereka bisa percaya pada diri sendiri, terutama kepada generasi muda?” Narasumber itu menjawab, “Pertama-tama, jangan percaya pada diri sendiri. Percayalah pada Yesus.” Sontak perkataan itu mengundang tawa crew karena latar belakang agama host tersebut. Host itu menanggapi, “Aku oke dengan itu, tapi bukankah menurutmu orang juga harus percaya pada diri mereka sendiri?” Narasumber itu membalas, “Ya, tapi itu terlalu banyak energi, bro. Jika kamu percaya pada Yesus, maka kamu membiarkan Yesus yang bekerja.”
Dari percakapan ini, sebenarnya kita bisa melihat sebuah dinamika kehidupan: di satu sisi kita diajar untuk percaya pada diri sendiri, tetapi di sisi lain kita sadar bahwa kita terbatas. Kita tidak selalu kuat, tidak selalu tahu arah, dan tidak selalu mampu menjamin hidup kita sendiri.
Daud pun bukan orang yang hidupnya selalu mulus. Kita tahu betul bagaimana jatuh-bangun kehidupannya. Justru dari kehidupan yang tidak selalu mudah itulah, ia mengalami perjumpaan yang intim dengan Tuhan. Kita bisa lihat bagaimana Daud menyebut Tuhan bukan sekadar “Gembala”, tetapi Gembalaku. Ada sebuah relasi dalam pengakuan itu: kedekatan, kepercayaan, dan penyerahan diri. Daud sadar, hidupnya bukan ia yang pegang penuh, tetapi Sang Gembala Agung.
Gembala adalah pribadi yang memelihara, melindungi, dan menuntun. Domba tidak dibiarkan mencari makan sendiri, tidak dibiarkan menghadapi bahaya sendirian, dan tidak dibiarkan berjalan tanpa arah. Inilah karakter Tuhan yang Daud kenal, yaitu Sang Pemelihara. Dari pengenalan seperti itulah Daud bisa berkata, yang dalam bahasa Ibrani artinya “tidak akan aku berkeinginan untuk suatu kebutuhan.” Bukan berarti hidupnya tanpa keinginan atau masalah, tapi ia percaya: Tuhan tahu dan akan menyediakan apa yang dibutuhkan.
Rasanya inilah yang sering jadi pergumulan kita. Kita ingin Tuhan menuntun, tapi tetap ingin pegang kendali. Kita ingin Tuhan memelihara, tapi masih takut kalau semuanya tidak berjalan sesuai keinginan dan rencana kita. Padahal mengikuti Sang Gembala berarti kita belajar taat, mengambil langkah, dan mempercayakan hasilnya kepada Tuhan.
Karena itu, menjadikan Tuhan sebagai Gembala bukan cuma soal merasa aman, tapi soal bersedia dipimpin. Ini berarti kita tidak diam di tempat, tetapi melangkah secara aktif mengikuti arah yang Tuhan tunjukkan, bahkan ketika arah itu tidak selalu sama dengan keinginan kita. Maka, jawaban narasumber di awal tadi bisa kita pahami dengan lebih utuh. Percaya pada Tuhan bukan berarti kita berhenti melakukan apa-apa, tetapi kita tidak lagi berjalan sendiri. Kita melangkah bersama Sang Gembala Agung yang melindungi, menuntun, dan memelihara setiap saat.
(Sdri. Yohana Jessica, S.Fil)