NAMANYA ADALAH YOHANES

  •  Sujud Swastoko
  •  

RENUNGAN HARIAN

GKI COYUDAN SOLO

Sabtu, 14 Desember 2024


NAMANYA ADALAH YOHANES

Lukas 1:57-66


”Lalu mereka memberi isyarat kepada ayahnya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya.” (ay.62-63)


Kelahiran Yohanes menjadi kegembiraan tersendiri bagi Zakaria dan Elisabeth, istrinya, dan juga bagi para tetangganya. Setidaknya ada dua hal yang mendasari sukacita mereka: Pertama, Elisabet yang sebelumnya tidak mungkin punya anak karena mandul dan usianya sudah lanjut, ternyata dianugerahi Tuhan seorang anak. Kedua, anak yang dilahirkannya berjenis kelamin laki-laki. Bagi orang Yahudi, kelahiran anak laki-laki menjadi sukacita yang besar bagi mereka dan menjadi kebanggan tersendiri.


Dalam tradisi Yahudi, anak disunat pada hari kedelapan setelah lahir. Dan itu juga menjadi peristiwa istimewa bagi mereka karena pada hari itu anak tersebut akan diberikan nama. Oleh karena itulah saat usia delapan hari, para tetangga datang dan hendak menamai anak itu Zakaria, seperti bapaknya. Karena sudah menjadi kebiasaan, anak diberikan nama sesuai dengan keturunan ayahnya.


Namun yang mengherankan mereka adalah, Elisabet tidak setuju dengan nama tersebut, karena sudah ada nama yang disiapkan, yaitu Yohanes. Padahal dalam keturunan Zakaria, tidak ada yagn bernama Yohanes. Inilah yang membuat para tetangga heran. Zakaria sendiri akhirnya menulis nama anaknya dengan batu tulis. Ia tidak bisa berkata-kata karena bisu. Saat malaikat Tuhan menemuinya dan memberitahu bahwa istrinya akan melahirkan, ia tertawa kurang percaya, dan ia menjadi bisu karena itu.


Zakaria menulis nama anaknya, Yohanes. Yohanes merupakan kependekan dari Yehohanan, yang berarti hadiah Jehovah atau Allah adalah rahim. Nama itulah yang diberikan Allah, dan juga sekaligus wujud syukur orangtuanya atas anugerah tersebut. Setelah memberi nama anaknya Yohanes, lidah Zakaria terlepas sehingga ia bisa berkata-kata lagi.


Dari peristiwa tersebut kita belajar bahwa dalam hidup ini kita harus tunduk dan taat kepada Tuhan. Kadang ada kebiasaan atau tradisi yang begitu kuat di masyarakat, namun jika Tuhan menghendaki hal yang lain, maka kita harus tunduk pada perintah Tuhan dibanding tradisi yang ada. Ketaatan kepada Tuhan juga merupakan salah satu bentuk ucapan syukur atas berkat keselamatan yang dianugerahkan kepada kita melalui Yesus Kristus. Selain itu, ketaatan kepada Tuhan menunjukkan bahwa kita menempatkan Tuhan sebagai Raja atas kehidupan kita.


Oleh karena itu, dalam rangka mempersiapkan kedatangan Tuhan kembali, dan juga mengenang peristiwa kelahiran Yesus Kristus ke dunia ini, hati kita harus dibersihkan agar menjadi suci dan kudus. Kelahiran Yohanes mengingatkan kita akan pertobatan yang diserukannya di padang gurun, yang menandakan juga bahwa kedatangan Kristus sudah dekat.


Kiranya Tuhan senantiasa menyertai dan menuntun hidup kita sehingga kita menjadi umat yang benar-benar siap menyambut kedatangan-Nya. Maranatha. Amin.


Pokok Doa

1. Persiapan Ibadah Minggu.

2. Persiapan Natal, keaamanan dan cuaca.

3. Ketersediaan lahan parkir permanen untuk jemaat GKI Coyudan.


Sujud Swastoko

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.