MENGHIDUPI KESEMPATAN KEDUA
Renungan Warta, 30 Maret 2025
MENGHIDUPI KESEMPATAN KEDUA
Yesaya 55 : 1 - 9
Santo Agustinus dari Hippo adalah salah satu tokoh kekristenan terbesar dalam sejarah, tetapi masa mudanya penuh dengan dosa dan pemberontakan terhadap Tuhan. Ia menjalani kehidupan yang liar, mencari kepuasan dalam kesenangan duniawi, dan bahkan menolak iman Kristen yang diajarkan ibunya, Monika.
Namun, doa dan air mata ibunya tidak sia-sia. Suatu hari, saat merenungkan kehidupannya yang hampa, Agustinus mendengar suara anak kecil berkata, "Ambil dan bacalah!" Ia pun membuka Alkitab membacanya. Hatinya digerakkan oleh Firman Tuhan yang menegurnya untuk meninggalkan dosa dan kembali kepada Tuhan Yesus Kristus.
Momen itu mengubah hidupnya. Ia bertobat, menerima Kristus, dan kemudian menjadi salah satu teolog terbesar dalam sejarah gereja.
Kisah Santo Agustinus mengajarkan bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni oleh Tuhan. Seperti Agustinus, kita mungkin pernah tersesat, tetapi Tuhan selalu mencari orang berdosa, mengasihi, dan memberi kesempatan bagi siapa saja yang mau kembali kepada-Nya.
Bacaan kita dari kita Yesaya 55 di ayatnya yang ke 6 - 7 berkata demikian “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. “
Kita mungkin pernah punya pengalaman terpuruk dalam kehidupan dosa, jauh meninggalkan Tuhan dan pelayanan, tetapi bagi Tuhan tangan-Nya tetap terbuka menyambut kita ketika kita mau kembali mencari-Nya. Masih ada kesempatan kedua untuk kita kembali hidup dalam terang-Nya.
Menghidupi kesempatan kedua berarti menanggalkan kehidupan manusia lama kita, dan mengenakan manusia baru seperti yang dituliskan Rasul Paulus di surat Efesus 4 : 17 -32.
“Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.” (Efesus 4 : 28).
(Bp. Yoseph Erry)