MEMAMPUKAN DIRI UNTUK MENJADI SAKSI

  •  Tirza Rossalina Christanti
  •  

Seorang pendeta pernah bertanya melalui sebuah forum mimbar. Pertanyaan yang dilontarkannya membuat saya tertegun, demikian: “Mengapa Tuhan Yesus hanya satu kali memberi makan 5.000 orang? Mengapa mujizat itu hanya dilakukan sekali?” Jika direfleksikan, jawaban atas pertanyaan ini tidak sulit. Namun demikian, saat itu tidak ada satupun anggota forum yang memberanikan diri untuk berbicara. Secara normatif, pertanyaan itu dapat dijawab dengan, “Mujizat itu adalah keputusan Tuhan. Manusia hanya bisa meminta, tetapi tidak bisa menuntut dan memaksa Tuhan untuk terus menerus melakukan mujizat.” Jawaban normatif yang lain bisa dikatakan demikian, “Tuhan yang memilih kepada siapa mujizat itu akan diperlihatkan.” Sama seperti mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus di Kana – ketika air diubah menjadi anggur – hanya sekali dilakukanNya.

Jawaban-jawaban itu mencerminkan Tuhan yang memiliki kedaulatan penuh dalam hidup kita. Betul. Tetapi, jika pertanyaan tersebut kita refleksikan lebih dalam, ada teladan yang Tuhan Yesus mau kita belajar dariNya. Mengapa hanya sekali? Bayangkan jika Tuhan Yesus berkali-kali melakukan mujizat pelipatgandaan roti. Bukankah dunia ini menjadi sangat makmur dan sejahtera? Tetapi tidak demikian dilakukanNya. Tuhan memberikan mujizat supaya kita belajar bahwa kita pun bisa menjadi berkat bagi sesama. Kita bisa menjadi saksi kebaikan Tuhan dan melipatgandakan roti-roti yang kita miliki – supaya orang-orang di sekitar kita terberkati. Kita bisa mengubah air menjadi anggur – secara konotatif – memberikan makna yang lebih dalam bagi hidup orang-orang di lingkungan kita. Kita mampu membuat hidup mereka menjadi lebih berwarna dan lebih manis melalui kehadiran kita.

Tuhan sudah memberikan teladan dan juga mengutus kita menjadi saksiNya. Tetapi amanat tersebut bukan direspon dengan tindakan pasif. Tidak otomatis, jika Tuhan memberikan perintah untuk bersaksi, kita akan menjadi pribadi yang inspiratif dan mampu untuk bersaksi. Respons aktif melalui sikap inisiatif diperlukan agar kita mengasah diri menjadi saksi yang baik. Kini, setiap kita memiliki “roti dan ikan” masing-masing, berupa: talenta, profesi, wewenang, atau kapasitas lain yang kita miliki. Apakah “roti dan ikan” itu akan kita gunakan untuk dapat menjadi kesaksian nyata bagi sesama tentang Tuhan yang kita imani? Panggilan itu harus kita cari, asah dan kita asuh, karena menjadi saksi adalah proses yang sejalan dengan pembentukan karakter kita. Maka, bagaimana mungkin kita menjadi saksi jika kita tidak terlebih dahulu memproses kesaksian-kesaksian Tuhan Yesus di hidup kita?

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.