KESENANGAN YANG MENJERAT
Renungan Harian GKI Coyudan
Kamis, 1 Mei 2025
KESENANGAN YANG MENJERAT
Yesaya 5:11-17
“Celakalah mereka yang bangun pagi-pagi dan terus mencari minuman keras, dan duduk-duduk sampai malam hari, sedang badannya dihangatkan anggur! Kecapi dan gambus, rebana dan suling, serta anggur terdapat dalam perjamuan-perjamuan mereka, tetapi perbuatan TUHAN tidak dipandangnya dan pekerjaan TUHAN tidak dilihatnya.”
Suatu malam, seorang pria muda pulang larut setelah pesta bersama teman-temannya. Musik, tawa, dan minuman keras mengisi malam itu. Ia merasa hidupnya "bebas" dan menyenangkan. Tapi keesokan paginya, ia bangun dengan kepala berat, perasaan hampa, dan relasi dengan keluarganya yang mulai renggang. Semakin hari, pesta menjadi pelarian. Semakin ia cari kesenangan, semakin ia kehilangan arah. Suatu ketika ia berkata, “Aku hanya ingin bahagia.” Tapi tanpa ia sadari, kebahagiaan yang ia kejar sudah menjadi jerat—yang perlahan mencuri ketenangan, waktu, dan masa depannya.
Dalam bagian ini, Nabi Yesaya menegur bangsa Israel karena gaya hidup mereka yang mengejar kesenangan tanpa takut akan Tuhan. Di ayat 11, Yesaya menggambarkan mereka yang bangun pagi-pagi untuk mengejar minuman keras dan terus berpesta hingga malam. Mereka hidup dalam irama anggur dan musik (ayat 12), tetapi tidak memperhatikan pekerjaan Tuhan dan tidak mempedulikan karya tangan-Nya.
Akibatnya, mereka akan menuai akibat yang serius: umat Tuhan dibuang karena tidak memiliki pengertian, orang besar akan mati kelaparan, dan rakyat akan kehausan (ayat 13). Bahkan dunia orang mati (Sheol) digambarkan membuka mulut lebar-lebar untuk menelan mereka (ayat 14).
Ayat 15–17 menunjukkan perubahan besar: manusia yang congkak direndahkan, hanya Tuhan yang ditinggikan. Domba—simbol kelemahan dan kepolosan—akan merumput di antara puing-puing kekayaan orang fasik. Ini adalah gambaran pembalikan keadaan: yang dahulu angkuh akan ditinggalkan, dan hanya mereka yang rendah hati yang akan menikmati pemeliharaan Tuhan.
Dalam dunia modern, kita juga dikelilingi oleh budaya mengejar kesenangan instan: pesta, hiburan tanpa batas, scroll media sosial tanpa henti, atau pelarian dari stres lewat konsumsi yang berlebihan. Kesenangan bukanlah dosa, tapi ketika kesenangan menjadi tujuan hidup, itu bisa menjadi jerat yang menutup mata kita dari realitas rohani dan tujuan kekal.
Yesaya mengingatkan bahwa kesenangan yang tidak disertai kesadaran akan Tuhan akan membawa kekosongan, kehilangan arah, bahkan kehancuran. Kita bisa sibuk mencari kenyamanan hidup tapi lupa bertanya: Apakah Tuhan disenangkan dengan hidupku?
Apakah aku lebih mengejar hiburan daripada hadirat-Nya?
Tuhan tidak menentang sukacita, tapi Ia ingin kita mengalami sukacita yang sejati—yang datang dari hati yang mengenal dan menghormati-Nya. Dunia menawarkan kenikmatan sementara, tapi hanya Tuhan yang menawarkan damai yang kekal.
Kiranya Tuhan menolong kita semua
Pokok Doa:
1. Berdoa untuk Digital Ministry GKI Coyudan agar dapat memperlengkapi setiap anggota jemaat dari segi spiritualitas maupun pengajaran
2. Berdoa untuk kestabilan ekonomi dan politik di Indonesia
3. Berdoa untuk pergumulan anggota jemaat yang sedang sakit dan mengalami kesulitan
Reggy Leo