KELUARGA YANG MENGHAMBA

  •  Askaria Tiaristhy Rantung
  •  

RENUNGAN WARTA, 20 Oktober 2024

BULAN KELUARGA


KELUARGA YANG MENGHAMBA

Markus 10:43-44

 

Dalam bulan keluarga ini, anak-anak sekolah minggu madya, remaja dan pemuda menuliskan doa dan harapan tentang keluarga mereka masing-masing dalam majalah dinding di halaman gereja. Tanpa harus mengenal siapa mereka, ternyata di antara mereka masih menuliskan doa dan harapan agar keluarga mereka rukun, damai, tidak ada perdebatan atau pertengkaran, saling mengampuni, satu hati dalam pelayanan atau pun untuk “menghamba” kepada Tuhan. Ini sebuah realitas yang tanpa sadar masih terjadi diantara kita atau pun diri kita sendiri. Apa yang terjadi? Mengapa ini terjadi ditengah keluarga?

 

Melihat potret ini, maka kita perlu melihat tentang prinsip pengajaran yang dikatakan oleh Yesus yakni menjadi pelayan dan hamba. Pelayan (diakonos) adalah sebuah fungsi untuk melayani, sedangkan hamba (doulos) merujuk pada orang yang memiliki status sosial sangat rendah dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga kala itu. Yesus mengatakan tentang prinsip sebagai pelayan dan melayani dalam sebuah konteks hamba ketika berbicara tentang sebuah status ataupun jabatan yang terbesar kala itu. Keteladanan pelayan dan hamba ini bukan sekedar omong kosong, melainkan Ia sendiri telah menjadi teladan yang nyata. Ayat ini menjadi sebuah pengingat tentang ambisi pribadi manusia yang seringkali menggambarkan egosentris pemecah relasi dalam keluarga.

 

Harapannya keluarga adalah tempat untuk belajar dan bertumbuh tentang kasih, pengampunan serta melayani. Di tengah harapan itu, maka keluarga yang menghamba adalah prinsip yang perlu ditumbuhkan dan dirawat dalam keluarga. Penopangnya adalah keluarga yang berpusat pada Kristus, menyadari bahwa kehadiran anggota keluarga adalah untuk saling melayani. Dalam bulan keluarga ini, kita juga diajak untuk bersaat teduh dengan SATE Keluarga yang dilakukan setiap Sabtu selama bulan Oktober. Melakukan SATE Keluarga adalah upaya kita untuk membentuk keluarga yang menghamba dan membangun sebuah disiplin rohani ditengah hiruk pikuk hidup ini. Maka mari kita mulai dari sendiri untuk menjadikan diri sebagai hambah dan bawa prinsip itu dalam keluarga kita. 


(Ibu Askaria Tiaristhy Rantung)

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.