KASIH YANG TIDAK MENYERAH
Renungan Harian GKI Coyudan
Sabtu, 29 Maret 2025
Kasih yang Tidak Menyerah
Lukas 15: 1-7
Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama mereka.” (ay. 1-2)
Suatu hari, ada seorang ibu sedang berbelanja dengan anaknya di tengah pasar besar yang ramai pengunjung. Pasar itu luasnya mirip dengan Pasar Gede Solo. Saat bertransaksi, ibu itu kehilangan anaknya. Tanpa ragu ia berlari sambil memanggil nama anaknya, tidak peduli harus berapa lama mencari atau seberapa banyak orang yang mungkin menganggapnya berlebihan. Baginya, satu hal yang penting: menemukan anaknya kembali.
Kasih ibu itu mengingatkan kita pada kasih Yesus yang tidak pernah menyerah dalam mencari dan menyelamatkan manusia yang tersesat. Dalam bacaan hari ini, Yesus “nongkrong” dengan para pemungut cukai dan orang berdosa: mereka yang dianggap oleh masyarakat saat itu tidak layak mendapatkan rahmat Allah. Namun, bagi Yesus, mereka berharga. Ia tidak melihat latar belakang mereka, tetapi melihat hati yang haus akan kebenaran.
Sebaliknya, orang-orang Farisi dan ahli Taurat justru bersungut-sungut. Mereka tidak bisa menerima bahwa Yesus mau makan dan menerima orang-orang yang mereka anggap berdosa. Sikap mereka menunjukkan hati yang tertutup terhadap kasih Allah.
Terkadang, kita juga bisa bersikap seperti orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Mungkin kita pernah memandang rendah seseorang karena masa lalunya, status sosialnya, atau cara hidupnya. Namun ingatlah bahwa kasih Tuhan tidak pilih-pilih. Yesus tidak menyerah mengasihi kita: orang berdosa. Yesus juga tidak menyerah mengasihi mereka: orang dengan status sosial apapun atau cara hidup yang tidak baik. Yesus tidak pernah menyerah untuk mengasihi siapapun.
Maka, mari renungkan: apakah aku memiliki hati yang terbuka untuk menerima dan mengasihi orang lain tanpa menyerah seperti Yesus?
Pokok doa:
1. Pergumulan anak dalam tumbuh-kembang rohani dan jasmaninya.
2. Kondisi politik dan ekonomi di Indonesia.
Yohana Jessica