JANGAN TAKUT MENDERITA
Renungan Harian GKI Coyudan
Selasa, 29 April 2025
Bacaan: Wahyu 2:8-11
Jangan Takut Menderita
Penderitaan tentu menjadi satu hal yang dihindari semua orang. Namun faktanya penderitaan itu akan selalu ada dan tidak bisa dihindari. Bahkan penderitaan itu datang berganti-ganti. Lalu bagaimanakah seharusnya kita menghadapi penderitaan itu? Apalagi penderitaan yang datang karena kita sedang mempertahankan kebenaran?
Dalam surat Wahyu, Yohanes memberikan pesan kepada tujuh jemaat Asia Kecil. Dalam perikop yang kita baca ia sedang memberikan pesan kepada jemaat di Smirna. Apakah yang terjadi di sana? Dan mengapakah Yohanes perlu memberikan pesan kepada jemaat di Smirna?
Dalam surat jemaat di Smirna, Yesus diperkenalkan sebagai "Yang Awal dan Yang Akhir," juga "Yang telah mati dan hidup kembali (ay. 8)." Kita tidak perlu mendebatkan sebutan itu, tetapi kita perlu tahu mengapa Yesus menggunakan sebutan itu bagi jemaat di Smirna. Sebutan itu dapat menunjukkan bahwa Yesus adalah sosok yang berkuasa dan tidak terbatas, sebab Ia adalah awal dan akhir. Selain itu Yesus juga adalah sosok yang menang melawan maut, maka dari itu Ia disebut telah mati dan hidup kembali.
Jemaat Smirna menjadi salah satu jemaat yang tidak menerima teguran dari Yesus. Pada waktu itu kondisi jemaat sedang berada dalam penderitaan. Lebih parah lagi penderitaan itu justru muncul dari kalangan orang-orang Yahudi yang sebangsa dengan mereka (ay. 9). Jemaat mendapatkan fitnahan dan berbagai hal sehingga membuat mereka terpuruk. Bukan hanya terpuruk, banyak orang-orang Kristen juga harus mengalami penganiayaan dan juga pemenjaraan (ay. 10). Tetapi jemaat Smirna bukanlah jemaat yang lemah, sehingga mereka tidak kalah dan menyangkal Tuhan seperti jemaat di Asia Kecil lainnya.
Jemaat mendapatkan sebuah nasehat langsung dari Yesus. Tetapi mungkin nasehat ini bukanlah nasehat yang menyenangkan ataupun menghibur. Nasehat itu adalah "jangan takut menderita." Bahkan Yesus berkata "setialah sampai mati (ay. 10)." Siapa yang tidak takut menderita? Dan apakah dalam penderitaan kita bisa sungguh-sungguh tenang dan tidak takut menghadapinya? Nasehat ini nampaknya tidak menjadi jawaban dalam penderitaan tetapi justru menambah penderitaan.
Tetapi sesungguhnya bagi orang percaya, hal ini adalah penghiburan besar. Mengapa? Karena kita tahu siapa yang memberikan nasehat. Yaitu Yesus sendiri yang adalah awal dan akhir. Ia adalah Allah yang paling berkuasa dari segalanya. Maka tentu Dia memegang kendali atas segala yang terjadi dalam hidup kita bahkan atas hidup kita juga. Lebih lagi Dia adalah Allah yang telah mengalahkan maut dan juga mengalami penderitaan sebelum menuju maut. Dialah yang memberikan nasehat untuk meneladani-Nya bukan hanya dalam perbuatan baik, tetapi juga dalam penderitaan-Nya.
Maka dari itu sebagai orang percaya, mari kita menyerahkan segala kendali kepada Tuhan yang berkuasa atas hidup kita. Jangan pernah berusaha memegang kendali atas kehidupan kita sendiri, karena tentu penderitaan itu akan semakin berat. Selain itu mari kita meneladani Kristus bukan hanya dalam perbuatan dan perkataan-Nya, tetapi juga dalam kesetiaan-Nya dalam menjalani penderitaan. Ia telah menghadapi maut itu bagi kita, supaya kita tidak perlu menghadap maut itu. Tugas kita sekarang adalah bertahan dalam penderitaan didalam dunia ini sampai kita beroleh hidup kekal bersama Yesus, dan tidak lagi mengalami kematian kedua (ay. 11), yakni penderitaan maut dan api neraka (Why 20:14; 21:8). Tetaplah setia dalam penderitaan. Jangan takut menderita sebab Tuhan yang berkuasa menyertai kita!
Pokok Doa:
1. Pergumulan studi dan pekerjaan remaja pemuda GKI Coyudan
2. Kondisi bangsa dan negara
3. Pergumulan jemaat yang sakit dan lanjut usia
Gerald Raynhart Stephen