HIDUP DENGAN HIKMAT
Pengkhotbah 9:16-18
(16) Kataku: "Hikmat lebih baik dari pada keperkasaan, tetapi hikmat orang miskin dihina dan perkataannya tidak didengar orang." (17) Perkataan orang berhikmat yang didengar dengan tenang, lebih baik dari pada teriakan orang yang berkuasa di antara orang bodoh. (18) Hikmat lebih baik dari pada alat-alat perang, tetapi satu orang yang keliru dapat merusakkan banyak hal yang baik.
Hikmat dianggap sebagai salah satu sifat baik tertinggi bersama-sama dengan kebaikan dan keadilan. Kitab pengkotbah sangat khas dengan pesan-pesan tentang kehidupan ini. Salah satunya soal singkatnya hidup yang hanya dijalani satu kali ini. Karena singkat dan hanya satu kali. Maka diperlukan hikmat dalam menjalani kehidupan ini.
Perhatikan perbandingan status kekayaan dengan hikmat yang disebutkan pada ayat 16. Orang memang senang dengan kehidupan yang mapan dan nyaman, tidak ada yang salah dengan itu. Namun jangan sampai kemudian kita menjadi tidak bersyukur dengan keadaan dan selalu merasa kurang. Sehingga hidup kita dihabiskan dengan mengejar kesuksesan, harta, ketenaran, status sosial dan tidak pernah puas.
Hikmat lebih baik dari kekuasaan (harta, ketenaran,status sosial, dsb). Pengkhotbah mengkontraskan dengan orang miskin yang berhikmat. Orang miskin adalah orang yang tidak memiliki banyak harta, tidak terkenal, ataupun elite. Orang miskin selalu dianggap bodoh, sedangkan orang kaya dianggap berhikmat. Di sini pengkhotbah menegaskan bahwa bahwa orang sering memandang dari penampilan luar (harta, status, ketenaran) daripada apa yang di dalam yaitu hikmat.
Maka carilah hikmat, sebuah kesadaran tentang arti hidup yang kita jalani. Kesadaran itu didapat dari ketenangan. Orang yang panik tidak akan bisa berpikir matang, tetapi orang yang tenang dapat berpikir matang. Itulah kesadaran. Maka jangan jadi orang bodoh yang menjalani hidup dengan nafsu dan kekuasaan. Hidup hanya sekali, jangan dijalani dengan sia-sia, tapi jalani dengan hikmat dari Tuhan.
Doa pribadi:
“Tuhan kami tidak mau menjalani hidup dengan sia-sia, melainkan kami mau menjalani dengan hikmatMu, amin.”