HATI YANG DIKOYAK
Renungan Harian GKI Coyudan
Rabu, 18 Maret 2026
HATI YANG DIKOYAK
Yoel 2:12-13
"Tetapi sekarang juga, 'demikianlah firman TUHAN, berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan mengaduh." koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya."
Di pinggir-pinggir jalan seringkali ada pedagang buah yang menaruh papan dengan tulisan harga murah untuk menarik pembeli. Tetapi, tidak jarang buah yang dijual murah terlihat menarik dari luar tetapi ketika dimakan rasanya tidak enak, entah terlalu kecut atau terlalu manis. Tampilan luar bisa menipu, padahal yang di dalam jauh lebih penting.
Bapak ibu, bangsa Israel pada masa itu sebenarnya punya sebuah kemiripan. Mereka adalah bangsa yang relijius, terlihat saleh dari luar. Mereka berpuasa, beribadah, berdoa, namun sayangnya hati mereka tidak seindah apa yang nampak.
Pada saat itu Yoel melayani pada masa sulit, dimana datangnya wabah dan kehancuran pada masa itu. Fenomena tersebut bukan sekedar fenomena alam, karena Nabi Yoel sendiri berkata bahwa bencana tersebut adalah sebuah panggilan agar umat kembali kepada Allah.
Pada masa itu di Budaya Timur Tengah, mengoyakan pakaian adalah ekspresi duka atau penyesalan. Jadi ketika seseorang mengekspresika penyesalannnya, akan sangat terlihat dramatis. Tetapi bapak ibu, seringkali simbol itu bisa menjadi kosong. Simbol, ritual, atau ibadah bisa tetap berjalan, tetapi hati juga tetap keras. Ini juga yang menjadi keprihatinan Nabi Yoel. Mereka berusaha untuk membeli kebaikan Tuhan dengan ritual mereka, tetapi hati dan tindakan mereka tetap jahat.
Inilah mengapa Yoel meminta mereka mengoyakan hati mereka, bukan pakaian mereka. Karena percuma mereka memperlihatkan kesalehan di luar, tetapi hati mereka tetap jahat, sehingga yang keluar dari hati mereka pun jadi jahat. Bapak Ibu, menurut seorang teolog ternama, hati manusia adalah sebuah pabrik berhala. Hati kita bisa menipu kita, perbuatan, pikiran, dan perkataan jahat bisa keluar darinya dan seringkali kita tidak menyadarinya.
Dengan hati kita, Terkadang kita merasionalisasi tindakan jahat yang kita lakukan dengan berkata, "saya hanya membela diri saya kok," atau, "saya hanya bercanda". Lalu terkadang kita jatuh ke dalam cinta yang salah. Kita mencintai sesuatu secara tidak proporsional. Mencintai uang, pengakuan , kenyamanan, pasangan kita, cucu kita, dsb. Kita menjadikan orang lain atau diri kita menjadi pusat hidup kita, padahal seharusnya yang menjadi pusat hidup kita adalah Kristus. Kita lihat di sini banyak kejahatan yang timbul dari hati, yang seringkali kita tidak sadari.
Mari kita di masa pra paskah ini, kita menilik hati kita bersama-sama lagi, kita mengingat perkataan, tindakan, dan pikiran kita. Apa saja kejahatan yang tidak kita sadari yang timbul dari hati kita. Setelah itu mari kita akui, kita bertobat, dan terus berjuang menghidupi hidup yang benar bersama dengan Tuhan.
Kiranya Tuhan menolong kita semuanya.
Pokok Doa:
Berdoa untuk perdamaian dunia, secara khusus konflik di Timur Tengah.
Reggy Leo