DARI JURANG DALAM

  •  Daniel Kristanto Gunawan
  •  

Renungan warta 22 Maret 2026

DARI JURANG DALAM

Mazmur 130

Pernahkah kita berada di dalam air yang cukup dalam, sehingga kaki tidak lagi menyentuh dasar? Pada saat itu muncul rasa panik. Tubuh berusaha mengapung, tangan bergerak mencari pegangan, dan dalam hati kita berharap ada seseorang yang menolong kita keluar dari situasi itu. Perasaan seperti itu—terdesak, tidak berdaya, dan membutuhkan pertolongan—sering kali juga terjadi dalam perjalanan hidup kita.

Mazmur 130 menggambarkan pengalaman batin yang serupa. Pemazmur berkata, “Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN.” Ia sedang berada di “kedalaman”: tempat di mana hati terasa berat, penuh pergumulan, bahkan mungkin dihantui kesadaran akan dosa dan kegagalan. Dari situ ia berseru kepada Tuhan.

Menariknya, pemazmur tidak berpura-pura kuat. Ia tidak menutupi pergumulannya. Ia datang kepada Tuhan apa adanya. Ia sadar bahwa jika Tuhan memperhitungkan semua kesalahan manusia, tidak ada seorang pun yang dapat bertahan. Namun di tengah kesadaran itu ia menemukan satu kebenaran yang menjadi pegangan: pada Tuhan ada pengampunan.

Di sinilah titik terang dari Mazmur ini. Pemazmur tidak berhenti pada kedalaman pergumulannya. Ia memilih untuk menanti Tuhan. Ia berkata bahwa ia menantikan Tuhan lebih dari penjaga menantikan pagi. Bagi seorang penjaga malam, pagi adalah tanda kelegaan—tanda bahwa masa jaga yang panjang dan gelap akhirnya selesai.

Inilah pesan utama Mazmur 130: Di tengah kedalaman pergumulan kita, Tuhan tetap menjadi sumber pengampunan dan pengharapan.

Sering kali ketika kita jatuh, gagal, atau merasa jauh dari Tuhan, justru kita ingin menjauh. Kita merasa tidak layak datang kepada-Nya. Tetapi Mazmur ini mengingatkan kita: justru dari kedalaman itulah kita dipanggil untuk berseru kepada Tuhan. Sebab pada-Nya ada kasih setia dan penebusan yang berlimpah.

Mungkin hari-hari ini ada di antara kita yang sedang berada dalam jurang dalam kehidupan—pergumulan keluarga, kelelahan batin, rasa bersalah, atau kekecewaan yang belum selesai. Mazmur 130 mengajak kita untuk tidak berhenti berharap. Seperti penjaga yang menantikan pagi, kita pun belajar menantikan Tuhan dengan sabar.

Sebab bersama Tuhan, jurang dalam tidak menjadi akhir cerita. Di dalam Dia selalu ada pengampunan dan pengharapan yang baru.

Pdt. Daniel K. Gunawan

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.